Peacefully Free Mei 16, 2011
Posted by nyanabhadra in English, meditasi, refleksi.Tags: cloud, peace, love, free, sky, embrace, fly
add a comment
Peacefully Free
Composed by Sr. Trieu Nghiem
Guitar by Br. Phap Tu
Bottle Drum by Br. Phap Lien
Recorded by Br. Phap Lien
I’m so free
because I can be me
look at the clouds at play
passing over everyday
inside the sky so blue
immense, spacious and true
I’ll be tall like the sky
wide enough to embrace what’s inside
just like the clouds passing by
flying high in the grand open sky
everything around me will be loved, embraced and peacefully free
everything inside me will be love, embraced and peacefully free
Download click here
Cinta Maret 16, 2011
Posted by nyanabhadra in Indonesia, refleksi, Thich Nhat Hanh.Tags: biksu, buddha, cinta, derita, kalyani, monastik, nanda, Thich Nhat Hanh
3 comments
Suatu hari Meghiya lapor kepada Buddha bahwa Nanda sering murung dan tampak tidak bahagia. Beberapa hari lalu Nanda mengaku di hadapan Meghiya bahwa dia sangat merindukan tunangannya, Kalyani yang sekarang tinggal di Kapilawastu. Nanda bilang, “Aku masih teringat persis ketika hari itu aku membawa mangkuk sedekah Buddha kembali ke Taman Nigroda, ketika saya pergi, Kalyani menatap mataku dan bilang ‘Cepat Pulang yah sayang, Aku menunggumu!’ Aku masih ingat persis rambut hitam terurai indah melewati pundaknya. Wajah Kalyani selalu muncul dalam meditasi duduk. Setiap kali aku melihat dia muncul dalam pikiranku, hatiku penuh dorongan. Aku tidak bahagia hidup seperti ini sebagai biksu”.
Hari berikutnya, Buddha mengundang Nanda pergi jalan santai, mereka berdua berjalan menuju sebuah danau meninggalkan Jetawana, Tiba di sana Buddha dan Nanda duduk di atas sebongkah batu rata yang besar sama-sama memandang ke arah danau, airnya tenang dan jernih, di pinggiran danau ada sekelompok itik yang berenang riang gembira, burung berkicau di atas ranting pohon.
(lagi…)
Betapa Bahagianya Februari 21, 2011
Posted by nyanabhadra in Indonesia, refleksi, Thich Nhat Hanh.Tags: ananda, baddhiya, bahagia, betapa bahagianya, biksu, biksuni, buddha, buddhiis, devadatta, harta, kaludayi, kekayaan, maha kassapa, monastik, spiritual, upali
1 comment so far
Buddha berjalan dari kerajaan Sakya menuju Kosala bersama ribuan biksu, hampir semua biksu berasal dari keluarga bangsawan. Rombongan berhenti taman dekat desa Anupiya yang merupakan kampung halaman suku Malla. Bhante Sariputra, Kaludayi, Nanda, dan Samanera Rahula juga ikut dalam rombongan itu.
Setelah Buddha dan rombongan meninggalkan Kapilawastu bulan lalu, ada dua kakak beradik dari keluarga bangsawan bernama Mahanama dan Anuruddha juga ingin bergabung dalam komunitas sanggha biksu, keluarga bangsawan yang memiliki kekayaan berlimpah ruah, mereka punya tiga kapling tanah yang setara dengan desa, setiap kapling tanah itu merupakan tempat rehat untuk tiga musim berbeda, mereka berdua ingin mengikuti jejak beberapa temannya yang sudah menjadi murid Buddha, namun Mahanama sebagai kakak tertua merasa kurang baik apabila mereka berdua menjadi biksu, oleh karena itu dia mengizinkan adiknya pergi dan dia sendiri meneruskan tugas mengelola kekayaan keluarga. (lagi…)
Sehari-hari November 12, 2010
Posted by nyanabhadra in Indonesia, meditasi, refleksi.Tags: aktivitas, arif, bijaksana, buddha, kehidupan, monastik, plum village, rutinitas, sehari-hari, Thich Nhat Hanh
add a comment
Melakoni setiap momen kehidupan dengan penuh perhatian merupakan hobi para praktisi, melalui cara demikian dia menuai banyak kearifan, lakon kehidupan demikian bisa terwujud karena seseorang selalu meluangkan banyak waktu senggang untuk melihat ke dalam dirinya sendiri, menatap lebih dalam apa yang sedang terjadi dalam pikiran dan perasaan, menatap lebih teliti reaksi apa yang sedang dipancarkan oleh badan jasmani, kemudian juga melongok apa yang sedang terjadi di dunia sekeliling ini.
Seandainya seseorang bisa secara kontinu hidup dalam ritme demikian tampaknya bisa memanen banyak kearifan, dia tidak perlu membaca buku terlalu banyak, dia tidak perlu menjadi orang pintar, dia tidak perlu menonton terlalu banyak, dia tidak perlu menghabiskan waktu untuk belanja, cukup memperhatikan dengan seksama apa yang sedang terjadi dalam tiga dimensi itu, dimensi pikiran, dimensi badan jasmani, dan dimensi lingkungan. (lagi…)
Keajaiban Hidup Sadar September 18, 2010
Posted by nyanabhadra in Indonesia, refleksi, Thich Nhat Hanh.Tags: eling, hidup sadar, karaniya, keajaiban, keajaiban hidup sadar, mindfulness, miracle, plum village, Thich Nhat Hanh
1 comment so far
Sesepuh Zen, Bhante Thich Nhat Hanh dalam buku indah indah sekaligus jernih ini mempersembahkan anekdot dan latihan praktis sebagai upaya berlatih hidup sadar, terjaga sadar sepenuhnya. Mulai dari mencuci piring, menjawab panggilan telepon hingga mengupas jeruk sekalipun, beliau mengingatkan kita menyadari bahwa setiap moment kegiatan itu memiliki kesempatan untuk berlatih menuju pengertian elbih dalam tentang diri sendiri dan kedamaian.
Doa & Pembebasan September 15, 2010
Posted by nyanabhadra in Indonesia, refleksi, Thich Nhat Hanh.Tags: doa, pantai, pembebasan, perahu
add a comment
Uruvela Kassapa duduk hening untuk sesaat, lalu berkata, “Gotama, aku tahu engkau berbicara hanya dari pengalaman langsungmu sendiri. Kata-katamu tidak menyatakan konsep-konsep. Engkau telah mengatakan bahwa pembebasan hanya dapat dicapai melalui berbagai upaya meditasi, melihat segala sesuatu secara mendalam. Apakah engkau berpikir bahwa semua upacara, ritual, dan doa sama sekali tak ada gunanya?”
Buddha menunjuk ke sisi seberang sungai dan berkata, “Kassapa, jika seseorang hendak menyeberang ke sisi seberang sana, apa yang seharusnya ia lakukan?”
“Jika airnya cukup dangkal, maka dia dapat berjalan menyeberang ke sana. Jika tidak, maka dia harus berenang atau mengayuh perahu ke seberang.”
“Aku setuju. Tetapi, bagaimana jika ia tidak mau berjalan menyeberang, berenang, atau mengayuh perahu? Bagaimana jika ia hanya berdiri saja di sisi sungai ini dan berdoa agar sisi sungai di seberang sana mendatanginya? Bagaimana pendapatmu tentang orang semacam itu?”
“Aku berpendapat bahwa ia agak bodoh!”
“Demikianlah, Kassapa! Jika seseorang tidak mengatasi ketidaktahuan dan berbagai penghalang mental lainnya, maka, orang itu tak akan dapat menyeberang ke sisi lainnya menuju pembebasan, meskipun ia menghabiskan seumur hidupnya untuk berdoa.”
Anger Juli 15, 2010
Posted by nyanabhadra in English, kaligrafi, refleksi.Tags: anger, calm, cool, fire, kaligrafi, peace
add a comment
Guru Dalam Dirimu? Juli 13, 2010
Posted by nyanabhadra in Indonesia, meditasi, refleksi, Thich Nhat Hanh.Tags: cermin, guru, kebaikan, kebenaran, kecantikan, pencerahan, persepsi
3 comments
Buddha mengatakan pikiran selalu bersinar seperti sebuah cermin, namun cermin ini terkubur dalam debu ratusan tahun silam, kita cuman perlu menggunakan kain lap untuk membersihkannya dengan demikian cermin ini bisa bersinar kembali, ini yang disebut benih Buddha atau elemen dasar pencerahan, semua orang punya elemen dasar ini.
Berhubungan penderitaan dan persepsi keliru sangat banyak maka, debu-debu ini menutupi elemen dasar pencerahan ini, begitu banyak persepsi keliru dalam dirimu. Tugas kita adalah berlatih untuk membersihkan lapisan debu ini dan mengangkat layar persepsi keliru agar kita bisa mengerti bahwa elemen dasar kencantikan, kebaikan, dan ketulusan memang sudah ada dalam dirimu, ini merupakan latihan esensial meditasi dalam buddhis.
Pada umumnya engkau merasa minder, makanya engkau mencari orang lain, engkau mencari guru yang bisa memberi sesuatu yang engkau tidak punya, tetapi sesungguhnya seorang guru yang mahir adalah dia yang membantu kamu menemukan guru dalam dirimu, seorang guru yang mahir akan meminta kamu untuk kembali ke gurumu ‘sendiri’, karena engkau telah punya elemen dasar kebaikan, elemen dasar pencerahan, elemen dasar welas asih dan sukacita, ketika engkau kembali kepada dirimu sendiri dan menyentuh kehidupanmu dengan mendalam, maka engkau menemukan guru dalam dirimu sendiri.
Seorang guru yang mahir adalah dia yang tidak membuat kamu menjadi orang yang tergantung kepadanya, seorang guru yang mahir adalah dia yang mengundang kamu kembali untuk menemukan bahwa ada guru dalam dirimu, engkau tidak perlu mengemis apa pun, engkau tidak perlu mengemis kecantikan, engkau tidak perlu mengemis kebaikan, engkau juga tidak perlu mengemis kebenaran, ternyata semua itu sudah ada dalam dirimu, inilah pernyataan Buddha ketika tercerahkan, “Sungguh aneh, semua orang punya elemen dasar itu, namun mereka tenggelam dari satu kehidupan menuju kehidupan berikutnya, mereka tenggelam dalam samudra penderitaan”.














