Pujian Juli 5, 2009
Posted by nyanabhadra in Indonesia, Thich Nhat Hanh, refleksi.Tags: Thich Nhat Hanh, pujian, monastik, bangga, arogan
2 comments
Suatu ketika ada seorang anak muda bertanya kepada Thay, “Saya punya rasa kurang nyaman ketika menerima pujian orang lain, ketika aku pikir kembali, pujian itu sungguh membuat saya kurang bahagia, ada sedikit perasaan sombong. Saya melihat begitu banyak mata tertuju padamu, memujimu, namun engkau tetap begitu tenang dan rendah hati juga begitu penuh kewaspadaan. Apakah engkau ada nasihat untuk saya agar bisa menerima pujian dengan penuh kesadaran?”
Thay menjawab, “Saya sebagai seorang monastik, kalau bicara dari sudut sebagai seorang monastik, kami ditahbiskan dalam keluarga monastik buddhis, mengenakan jubah sederhana, situasi berubah drastis, banyak sahabat awam yang ingin memberi hormat kepadamu karena engkau seorang monastik. Bagi seorang yang baru saja ditahbiskan tentu saja sangat menyulitkan, karena mereka sudah menjadi seseorang yang dihormati, jika mereka tidak berlatih dengan baik, maka mereka akan tenggelam dalam kebanggaan dan kesombongan.
Harmonis = Sangha Juni 22, 2009
Posted by nyanabhadra in Indonesia, Thich Nhat Hanh, refleksi.Tags: harmonis, order of interbeing, sangha
add a comment
Ada seorang anggota OI (Order of Interbeing) dari Perancis bertanya, mereka selalu kurang harmonis dalam menentukan atau mengambil keputusan tentang kegiatan OI, apakah harus mengadakan pertemuan (meeting) bersama monastik atau hanya pertemuan sesama sahabat awam saja, apakah harus membentuk sebuah asosiasi untuk bergerak dalam bidang sosial atau pelayanan mewakili OI atau bergabung dengan organisasi sosial yang sudah ada untuk melakukan kegiatan sosial. Pertanyaanya adalah bagaimana saya bisa bantu anggota sangha agar hidup harmonis dan mohon Thay memberikan nasihat.
Menurut Thay, cara terbaik untuk membantu sangha hidup dalam harmonis adalah sikapmu, bagaimana kamu bertindak dalam sangha, jangan ikut terjun ke dalam perselisihan (dispute), jangan memihak, kamu cukup senyum kepada semua sangha dan tidak lama kemudian kamu mengundang lonceng berbunyi, meminta semua sangha untuk bernapas, dan bertanya “Dear brothers and sister, are we already a good sangha? Do we have enough harmony yet? If we don’t have enough harmony, then there is no point to do anything, because a sangha means harmony!”
Kalau tidak ada harmonis maka itu bukan sangha sesungguhnya, kalau tidak ada sangha sesungguhnya maka tidak ada buddha dalam hati kita, jadi kehadiranmu dalam sangha bagaikan bunga segar atau lonceng kesadaran, saya rasa ini cara terbaik untuk membantu membangun sangha.
dikutip dari sesi tanya jawab “retret 21 hari” 2009 di Plumvillage
Bunuh Diri Juni 22, 2009
Posted by nyanabhadra in Indonesia, Thich Nhat Hanh, refleksi.Tags: anihilisme, bunuh diri, karuna
3 comments
Ada pertanyaan tentang bagaimana mencegah teman kita yang ingin bunuh diri, Thay bilang tidak ada gunanya berdebat dengan orang yang mau bunuh diri, sebaiknya kita jangan mencegahnya, kalau kita mencoba untuk mencegahnya maka orang itu akan menganggap kita sebagai penghambat niatnya untuk mati, ini bisa memunculkan efek negatif. Mereka sudah tidak mau mendengar lagi nasihat kita tentang ide atau gagasan bahwa bunuh diri itu tidak baik, merugikan dan membuat orang lain menderita, teori-teori ini tidak akan mempan pada saat itu.
Orang yang memutuskan untuk bunuh diri merasa bahwa mengakhiri hidup berarti mengakhiri penderitaan, namun ini kesimpulan keliru, mereka akan terus berlanjut ke bentuk lain, penderitaan lain dalam bentuk lain, bahkan menderita lebih banyak lagi, dan membuat orang lain semakin menderita. Tentu saja tidak ada gunanya lagi memberitahu orang itu tentang ide atau gagasan seperti ini, mereka tak mau mendegar teori seperti ini lagi. Mereka percaya terhadap anihilisme bahwa ketika saya mati maka sang ‘aku’ sudah tidak ada lagi maka sang derita juga tidak ada lagi bersama matinya aku. Tidak ada derita karena sudah tidak ada sang penderita lagi. Jelas sekali ini disebut pandangan keliru.
Kita perlu cara pintar, mungkin kita boleh bilang, “oke kalau kamu mau bunuh diri boleh saja, it’s oke, tapi sebelum kamu bunuh diri bolehkah kamu membantu saya akan satu hal saja, karena aku membutuhkan bantuanmu untuk mendengarkan cerita dariku” dengan pintar kamu bercerita untuk menggiring dia keluar dari niat (mood) bunuh diri, jangan menunjukkan gelagat mau mencegahnya untuk bunuh diri, kamu memanggil benih karuna dalam diri orang itu, jadi barangkali sebelum dia mati mungkin saja dia mau berbuat sesuatu yang indah yaitu mendengar ceritamu, jadi kamu menyentuh benih metta karuna-nya dalam dirinya sehingga niat bunuh diri berkurang, bisa jadi dia mengurungkan niatnya apabila engkau terampil dalam cerita itu.
dikutip dari sesi tanya jawab “retret 21 hari” 2009 di Plumvillage
Toksin dan Minyak Wijen Juni 22, 2009
Posted by nyanabhadra in refleksi.Tags: oil pulling, toksin, wijen
1 comment so far
Selama retret 21 hari, Thay (Bhante Thich Nhat Hanh) memberikan usul untuk berkumur pagi ketika bangun tidur dan malam sebelum tidur dengan menggunakan takaran 1 “sendok teh” minyak wijen, dikumur selama 15 sampai 20 menit, kumur ke kiri dan ke kanan, menggunakan lidah untuk membantu komunikasi minyak wijen dengan organ tubuh agar bisa mengeluarkan semua toksin dan racun dalam tubuh kita, setelah kumur-kumur kita buang minyak itu dan wajib membasuh mulut kita beberapa kali kemudian boleh menggosok gigi.
Thay sudah mencobanya, ini salah satu cara mengeluarkan racun dalam tubuh, selama 15 atau 20 menit kumur-kumur kita boleh melakukan meditasi kumur kemudian kita bisa menjalin komunikasi antara organ tubuh dengan minyak wijen yang sudah bercampur dengan ludah kita, komunikasi ini yang menarik semua toksin dan racun, campuran minyak wijen dan ludah kita mampu menarik dan mengikat racun, setelah selesai kita buang kumuran itu, banyak toksin tubuh kita yang keluar, jadi jangan di buang sembarangan, sebaiknya di buang ke toilet dan di flush.
Kita semua orang di plum village diberikan sekian takaran dan kita coba setiap hari selama satu minggu. Tak cuma toksin dalam seluruh tubuh bisa tertarik oleh minyak ini, namun katanya gigi kita akan bersih dari plak dan membuat gusi lebih kuat. Katanya sih ada di website, coba cari pakai kunci “oil pulling”.
Hari pertama saya coba cuman 15 menit, ada brothers yang lain hanya kumur 10 menit, efeknya sih betul-betul ada, mulut tidak begitu bau ketika bangun pagi, gigi juga terasa bersih dan segar, dan badan saya setelah kena tipus mulai sembuh dan segar kembali, saya sudah mulai main basket, main bola voli, juga kemaren sore sudah mulai lazy day selama 5 hari, jadi kita ramai-ramai main sepak bola, asyik sekali.
silakan lihat-lihat ke http://www.oilpulling.com/
Penjara Rasa Bersalah April 21, 2009
Posted by nyanabhadra in Thich Nhat Hanh, refleksi.Tags: penjara, perang, rasa bersalah, veteran
comments closed
Suatu ketika Thay ditanya, “Bagaimana menanggulagi perasaan bersalah?”, Thay menjawab:
Semua orang pernah berbuat salah, semua orang barangkali tidak begitu terampil dan ujung-ujungnya menciptakan penderitaan di masa lalu, namun apabila engkau mengerti dharma dan tahu cara mempraktikkannya, maka kita tidak akan menjadi korban dari perasaan bersalah itu, karena pada momen ini kita selalu punya kesempatan untuk melakukan atau mengatakan sesuatu demi menetralisasikan kesalahan masa dulu.
Mencintai atau Menghancurkan? Maret 14, 2009
Posted by nyanabhadra in refleksi.Tags: cinta, upeksa
comments closed
Tanpa kehadiran Upeksa, cinta berubah menjadi posesif. Hembusan angin pada musim panas memberi kesegaran, namun apabila engkau mencoba untuk mengalengkan angin itu agar bisa menikmatinya sendirian, maka angin itu akan mati.
Kekasih atau orang yang kita sayangi juga demikian, dia bagaikan awan, angin atau bunga, apabila engkau mengurungnya dalam kaleng, dia akan mati. Ternyata banyak orang bertindak demikian, mereka merampas kebebasan sang kekasih, lebih parah lagi bahkan sang kekasih sudah tidak bisa menjadi dirinya sendiri lagi.
Banyak orang yang hanya hidup untuk memuaskan dirinya sendiri saja, menjadikan kekasihnya sebagai objek untuk memenuhi keinginannya, tindakan demikian bukanlah mencintai namun menghancurkan!
Engkau berulang kali mengatakan “aku cinta padamu”, namun apabila engkau tidak mengerti aspirasi, kebutuhan, kesulitannya, maka engkau sedang memenjarakan kekasihmu dalam sel yang bernama “cinta”.
Cinta sejati memberimu dan kekasihmu ruang agar tetap memiliki kebebasan.
Kecemasan Maret 13, 2009
Posted by nyanabhadra in Thich Nhat Hanh, meditasi, refleksi.Tags: kecemasan, materialistik, napas
comments closed
Ada seorang temanku bertanya, “Apakah engkau tidak cemas dengan keadaan dunia materialistik zaman sekarang ini?”
Aku bernapas dengan damai kemudian menjawab, “Bagiku, yang paling penting adalah jangan membiarkan kecemasan atas dunia materialistik ini memenuhi hatiku, apabila hatiku sesak oleh kecemasan ini, aku akan jatuh sakit, aku tidak berdaya dan tidak bisa berbuat sesuatu untuk membantu.”
Ada begitu banyak perang, entah itu perang besar atau kecil, keadaan ini membuat kita kehilangan kedamaian. Kecemasan merupakan satu penyakit akut di zaman ini, kita khawatir akan diri sendiri, keluarga, teman, kerja, dunia materialistik, dan keadaan dunia ini. Apabila kita membiarkan kekhawatiran memenuhi hati, cepat atau lambat kita akan jatuh sakit.
Ada begitu banyak penderitaan di setiap sudut dunia, walaupun mengetahui keadaan demikian tidaklah melumpuhkan kita sama sekali. Apabila kita berlatih napas, jalan, duduk, kerja dengan penuh kesadaran, kita mencoba untuk membantu, dengan demikian kedamaian akan hadir dalam hati kita.
Kecemasan tidak mampu menyelesaikan masalah, bahkan kita cemas 20 kali lipat lebih banyak, tetap saja tidak membawa perubahan atas dunia materialistik ini, justru kecemasan membuat situasi semakin buruk!
Walaupun pada kenyataanya, dunia ini bukanlah seperti yang kita harapkan, namun kita tetap bisa merasa puas karena kita telah mencoba berbuat sesuatu, tentu saja kita akan terus berupaya. Apabila kita tidak tahu bagaimana cara jalan, duduk, senyum, kerja dengan penuh perhatian setiap saat dalam kehidupan sehari-hari, maka kita tidak akan pernah bisa membantu siapa pun.
diadaptasi dari ceramah Thay Nhat Hanh
Melepaskan Simpul Kemarahan Februari 7, 2009
Posted by nyanabhadra in Thich Nhat Hanh, meditasi, refleksi.Tags: kemarahan, simpul, agresi, smrti
comments closed
Melepaskan Simpul Kemarahan
Oleh Thich Nhat Hanh
Bagi saya, berbahagia berarti berkurangnya penderitaan. Kalau kita tidak sanggup mentransformasikan luka dalam diri sendiri, tentu saja kebahagiaan tidak mungkin hadir.Banyak orang mencari kebahagiaan di luar dirinya sendiri, namun kebahagiaan sesungguhnya berasal dari dalam diri kita. Kultur kita mengajarkan bahwa kebahagiaan hadir ketika seseorang memiliki banyak uang, kekuasaan dan posisi tinggi dalam masyarakat, tapi apabila kita menelaah dengan cermat, engkau akan melihat begitu banyak orang kaya dan tersohor yang tidak bahagia, banyak diantara mereka yang bunuh diri.
(lagi…)
Kisah Quan Am Thi Kinh Januari 2, 2009
Posted by nyanabhadra in Indonesia, Thich Nhat Hanh, refleksi.Tags: avalokiteshvara, bodhisatwa
comments closed
Ceramah Dharma oleh Thich Nhat Hanh pada tangal 28 Juli 1996 di Plum Village, Perancis.
Melampaui Ketidakadilan:
Kisah Quan Am Thi Kinh
© Thich Nhat Hanh
Sahabat,
Hari ini tanggal 28 Juli 1996, kita berkumpul di Lower Hamlet, saya akan menggunakan bahasa Inggris.
Ada seorang anak perempuan kecil bernama Kinh, dia lahir di Vietnam utara zaman dahulu. Orang tuanya berharap kelahiran seorang pria, namun yang lahir adalah perempuan, walaupun demikian mereka tetap bahagia dan memberikan nama kecil Kinh kepadanya. Kinh berarti “respek, yang disanjung tinggi”. Sebuah nama indah. Anda menghormati orang lain, binatang, termasuk menghormati kehidupan tumbuhan dan mineral. Menghormati kehidupan, menghormati kehidupanmu juga kehidupan mereka dekat denganmu. Kinh seorang perempuan cilik cantik, seperti setangkai bunga. Kinh sering bersama ibunya berkunjung ke wihara dekat desanya untuk memberikan persembahan bunga teratai kepada Buddha dan mendengarkan ceramah dharma yang diberikan oleh biksu. Kinh senang mendengar dharma.
(lagi…)









