jump to navigation

Momen Bahagia November 1, 2009

Posted by nyanabhadra in kaligrafi, refleksi.
Tags: , , , , ,
add a comment

momen_bahagiaBeberapa hari lalu, Thay memberi ceramah tentang Bodhicitta (The beginners mind), beliau menceritakan sedikit tentang tour Amerika yang barusan selesai.

Saat ini sudah cukup banyak aspiran yang siap untuk ditahbiskan menjadi samanera dan samaneri, namun sampai hari ini belum ada keputusan pasti siapa yang akan diterima dalam penahbisan ini.

Thay memberi ceramah tentang bagaimana terus mempertahakan “The beginners mind”, sungguh menarik sekali, kemudian Thay juga bercerita tentang kalimat “insight” baru yang akan menjadi tulisan kaligrafinya yang baru, saya mencoba-coba menuliskan kata-kata itu.

Thay juga bilang, pada musim dingin ini, tema vasa kita adalah “The art to be happy”, tampaknya cocok buat para monastik!

Gatha Tekad November 1, 2009

Posted by nyanabhadra in refleksi.
Tags: , , , , ,
add a comment

Gatha TekadSaya senang dengan syair ini, saya kutip syair ini dari buku Stepping into Freedom, syair penuh makna dalam dan memberi inspirasi setiap kali membacanya. Saya tulis syair ini dan ditempel di tembok dekat tempat tidur saya agar setiap pagi bangun saya bisa membacanya, memulai hari dengan penuh makna dan semangat baru!

Kalau dalam perjalanan engkau menemukan kalimat, syair, dan sebagainya yang bisa memberi semangat hidup dan menjadi hari baru begitu indah, barangkali boleh mencoba cara sederhana saya ini.

Sampai detik ini, saya sangat senang dengan syair ini, saya lafalkan dalam hati dan membulatkan tekad untuk terus berjalan di dalam karir monastik, menuju keindahan dan kebebasan sejati!

Selamat menikmati dan mencoba!

senyum Oktober 3, 2009

Posted by nyanabhadra in kaligrafi.
Tags: ,
1 comment so far
Senyum

Senyum

rakit bambu Oktober 3, 2009

Posted by nyanabhadra in kaligrafi.
Tags: ,
add a comment
Rakit bambu

Rakit bambu

If you love me, love openly! September 24, 2009

Posted by nyanabhadra in English, Thich Nhat Hanh.
Tags: , , , , ,
3 comments

If you love me, love openly!

In a monastic sangha, there was a beautiful nun, even though she shaved her head, but she is still very beautiful, many young monks admired at her, secretly admired her.

This nun has a very strong bodhicitta, wholeheartedly, her mindful manner is very beautiful, there are no monks can do like that.

She never sat separately with anybody, she always be a flower, very impartial. In our monastic sangha, of course we have someone like her too.

One day, that nun received a chanting book with a letter inside from a monk, a young brother monk borrow a chanting book from her, when he returned that book he put letter inside that book, he said that, “I’m not peace with myself, I think a lot about you, if I have a chance to embrace or hug you, once, only once time, I think I can pacify my mind, so I can do sitting meditation, walking meditation. Right now I’m not at peace with myself, I only wish one thing, I wish to hug you. I think a lot about you right now, I think after I’m able to hug you, maybe I would be more peaceful with myself.”

One day, before the dharma talk, the nun raised up and said, “Respected teacher, I received a letter from my elder brother”, she asked permission from the master to read the letter in front of the whole monastic community, she wasn’t joking, she saw the suffering of her elder brother.

After finished reading that letter, she turned toward that monk and said, “I know you are not peaceful right now, you want to hug me, so right now is the chance, I’m ready to hug you in front of the whole community, this is your opportunity, you said that after hug me, you will be peaceful to practice, to study, so I invite you to hug me right now!”

The unexpected happening at that moment, the monk could not expect something like that happened, it completely cure his love sick, and after that he progress very much in study and practice.

excerpt from Monastic Day, Talk by Great Zen Master, Thich Nhat Hanh

Lima Latihan Agustus 30, 2009

Posted by nyanabhadra in Indonesia, Thich Nhat Hanh, refleksi.
Tags: , , , ,
add a comment

Kakak dan adik bersama dalam komunitas, inilah momen bagi kita bersama untuk melafalkan lima latihan perhatian penuh kesadaran. Lima latihan ini mewakili visi buddhis dalam ruang lingkup spiritual dan etnik secara global. Latihan ini merupakan ungkapan konkrit atas ajaran Buddha tentang Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Mulia Beruas Delapan, jalan pengertian benar dan cinta kasih, menuntun ke arah penyembuhan, transformasi dan kebahagiaan untuk diri sendiri dan dunia. Melaksanakan Lima Latihan ini berarti mengolah pengertian mendalam atas keadaan saling bergantungan, pandangan benar yang mampu menyingkirkan semua jenis diskriminasi, intoleransi, kemarahan, ketakutan, dan keputusasaan. Apabila kita menjalankan hidup selaras dengan Lima Latihan ini, kita sudah berada dalam jalan bodhisatwa. Mengetahui bahwa kita sudah berada dalam jalan ini, kami tidak terhanyut dalam kebingungan tentang hidup kami di masa lampau maupun ketakutan akan masa depan. (lagi…)

Jatuh Cinta Agustus 15, 2009

Posted by nyanabhadra in Indonesia, Tanya Jawab, Thich Nhat Hanh, refleksi.
Tags: , , ,
1 comment so far

Ada seorang anak perempuan kecil bertanya kepada Thay, “Thay dan sanggha terkasih, mengapa para monastik pria dan wanita tidak boleh saling jatuh cinta?”

Thay menjawab, “Saya rasa, semua monastik pria dan wanita sedang jatuh cinta!”

“Jatuh cinta berarti senang pada seseorang atau sesuatu, mereka senang akan kehidupan monastik, senang akan latihan, mereka juga senang akan transformasi penderitaan menjadi kebahagiaan dan kebebasan sehingga mereka bisa membantu banyak orang.”

Tanya Jawab di retret musim panas 2009

Tanya Jawab di retret musim panas 2009

“Mereka mencintai Buddha, guru, mereka juga mencintai kakak dan adik dalam monastik, mereka belajar bagaimana untuk mencintai dengan sedemikian rupa sehingga cinta itu membawa kebahagiaan, bukan sebaliknya yakni mendatangkan banyak penderitaan.”

“Aku rasa, kakak adik dalam monastik mereka saling mencintai, namun mereka tidak menikah, karena sebagai monastik mereka hidup sedemikian rupa sehingga punya banyak waktu untuk belajar dan berlatih kemudian membantu melakukan tugas dharma.”

“Apabila engkau menikah dan bertanggung jawab untuk memberikan nafkah kepada keluarga, engkau tidak punya waktu terlalu banyak untuk melakukan tugas seperti para monastik.”

“Apakah engkau pernah jatuh cinta?”

Anak itu mengeleng-geleng kepala, sambil tersenyum malu.

Thay melanjutkan “Tanya lagi pertanyaan itu ketika engkau sudah dewasa, oke”

“Apakah engkau mengerti kata selibat?”

“Mereka yang masuk monastik sebagai biksu biksuni karena mereka senang akan latihan selibat, namun selibat tidak berarti engkau tidak boleh jatuh cinta, namun engkau belajar mencintai dengan sedemikian rupa caranya sehingga tidak mendatangkan penderitaan.

Pujian Juli 5, 2009

Posted by nyanabhadra in Indonesia, Thich Nhat Hanh, refleksi.
Tags: , , , ,
4 comments

Suatu ketika ada seorang anak muda bertanya kepada Thay, “Saya punya rasa kurang nyaman ketika menerima pujian orang lain, ketika aku pikir kembali, pujian itu sungguh membuat saya kurang bahagia, ada sedikit perasaan sombong. Saya melihat begitu banyak mata tertuju padamu, memujimu, namun engkau tetap begitu tenang dan rendah hati juga begitu penuh kewaspadaan. Apakah engkau ada nasihat untuk saya agar bisa menerima pujian dengan penuh kesadaran?”

Thay menjawab, “Saya sebagai seorang monastik, kalau bicara dari sudut sebagai seorang monastik, kami ditahbiskan dalam keluarga monastik buddhis, mengenakan jubah sederhana, situasi berubah drastis, banyak sahabat awam yang ingin memberi hormat kepadamu karena engkau seorang monastik. Bagi seorang yang baru saja ditahbiskan tentu saja sangat menyulitkan, karena mereka sudah menjadi seseorang yang dihormati, jika mereka tidak berlatih dengan baik, maka mereka akan tenggelam dalam kebanggaan dan kesombongan.

(lagi…)

Harmonis = Sangha Juni 22, 2009

Posted by nyanabhadra in Indonesia, Thich Nhat Hanh, refleksi.
Tags: , ,
add a comment

Ada seorang anggota OI (Order of Interbeing) dari Perancis bertanya, mereka selalu kurang harmonis dalam menentukan atau mengambil keputusan tentang kegiatan OI, apakah harus mengadakan pertemuan (meeting) bersama monastik atau hanya pertemuan sesama sahabat awam saja, apakah harus membentuk sebuah asosiasi untuk bergerak dalam bidang sosial atau pelayanan mewakili OI atau bergabung dengan organisasi sosial yang sudah ada untuk melakukan kegiatan sosial. Pertanyaanya adalah bagaimana saya bisa bantu anggota sangha agar hidup harmonis dan mohon Thay memberikan nasihat.

Menurut Thay, cara terbaik untuk membantu sangha hidup dalam harmonis adalah sikapmu, bagaimana kamu bertindak dalam sangha, jangan ikut terjun ke dalam perselisihan (dispute), jangan memihak, kamu cukup senyum kepada semua sangha dan tidak lama kemudian kamu mengundang lonceng berbunyi, meminta semua sangha untuk bernapas, dan bertanya “Dear brothers and sister, are we already a good sangha? Do we have enough harmony yet? If we don’t have enough harmony, then there is no point to do anything, because a sangha means harmony!

Kalau tidak ada harmonis maka itu bukan sangha sesungguhnya, kalau tidak ada sangha sesungguhnya maka tidak ada buddha dalam hati kita, jadi kehadiranmu dalam sangha bagaikan bunga segar atau lonceng kesadaran, saya rasa ini cara terbaik untuk membantu membangun sangha.

dikutip dari sesi tanya jawab “retret 21 hari” 2009 di Plumvillage

Bunuh Diri Juni 22, 2009

Posted by nyanabhadra in Indonesia, Thich Nhat Hanh, refleksi.
Tags: , ,
5 comments

Ada pertanyaan tentang bagaimana mencegah teman kita yang ingin bunuh diri, Thay bilang tidak ada gunanya berdebat dengan orang yang mau bunuh diri, sebaiknya kita jangan mencegahnya, kalau kita mencoba untuk mencegahnya maka orang itu akan menganggap kita sebagai penghambat niatnya untuk mati, ini bisa memunculkan efek negatif. Mereka sudah tidak mau mendengar lagi nasihat kita tentang ide atau gagasan bahwa bunuh diri itu tidak baik, merugikan dan membuat orang lain menderita, teori-teori ini tidak akan mempan pada saat itu.

Orang yang memutuskan untuk bunuh diri merasa bahwa mengakhiri hidup berarti mengakhiri penderitaan, namun ini kesimpulan keliru, mereka akan terus berlanjut ke bentuk lain, penderitaan lain dalam bentuk lain, bahkan menderita lebih banyak lagi, dan membuat orang lain semakin menderita. Tentu saja tidak ada gunanya lagi memberitahu orang itu tentang ide atau gagasan seperti ini, mereka tak mau mendegar teori seperti ini lagi. Mereka percaya terhadap anihilisme bahwa ketika saya mati maka sang ‘aku’ sudah tidak ada lagi maka sang derita juga tidak ada lagi bersama matinya aku. Tidak ada derita karena sudah tidak ada sang penderita lagi. Jelas sekali ini disebut pandangan keliru.

Kita perlu cara pintar, mungkin kita boleh bilang, “oke kalau kamu mau bunuh diri boleh saja, it’s oke, tapi sebelum kamu bunuh diri bolehkah kamu membantu saya akan satu hal saja, karena aku membutuhkan bantuanmu untuk mendengarkan cerita dariku” dengan pintar kamu bercerita untuk menggiring dia keluar dari niat (mood) bunuh diri, jangan menunjukkan gelagat mau mencegahnya untuk bunuh diri, kamu memanggil benih karuna dalam diri orang itu, jadi barangkali sebelum dia mati mungkin saja dia mau berbuat sesuatu yang indah yaitu mendengar ceritamu, jadi kamu menyentuh benih metta karuna-nya dalam dirinya sehingga niat bunuh diri berkurang, bisa jadi dia mengurungkan niatnya apabila engkau terampil dalam cerita itu.

dikutip dari sesi tanya jawab “retret 21 hari” 2009 di Plumvillage