Hari Keduabelas: Kisah Nyata

Hari ini hari kamis tanggal 11 Desember, mindfulness day kali ini di Lower Hamlet, tempat tinggal para biksuni, sramaneri dan non monastik wanita. Pagi-pagi saya sudah bangun dan pagi itu lihat Br Phap Chieu, dia bilang kita jalan kaki ke Lower Hamlet, kira-kira 45 menit, karena terlalu pagi dia ajak saya ke kamarnya minum teh dulu, setelah itu jalan menuju Lower Hamlet, tapi karena terlalu dingin saya bilang mau balik ke kamar sebentar ambil jaket, kita pun mulai jalan, karena suhu terlalu dingin, kita lari-lari kecil, badan terasa hangat sedikit, tiba di Lower Hamlet langsung menuju ruang meditasi, ternyata Thay sudah tiba duluan, kita menyelinap masuk dan barusan duduk langsung terdengar bunyi lonceng mulai meditasi. Perlu diketahui, kalau sudah bunyi lonceng meditasi, orang yang di luar tidak diperkenankan masuk ruangan karena bisa menganggu meditasi, syukur saya dengan Phap Chieu lari-lari kecil, akhirnya sempat ikut meditasi pagi. Mereka yang di luar diwajibkan meditasi jalan dan setelah sesi 30 menit meditasi duduk selesai, mereka boleh masuk ke ruangan.

Baca lebih lanjut

Hari Kesebelas: Etika Sramanera

Hari ini rabu tanggal 10 Desember, setiap hari rabu pagi adalah uposatha bagi mereka, namun uposatha bergiliran, minggu pertama dan ketiga adalah pelafalan sila samanera, dan minggu ke dua dan ketiga adalah pelafalan vinaya biksu. Pagi itu Thay hadir di ruang meditasi, ada puja singkat, pembacaan 5 Latihan perhatian murni, kemudian samanera dan sangha non monastik keluar, para biksu melakukan meditasi jalan sebentar dan kemudian melafalkan vinaya biksu.

Pagi itu ada diskusi “fine manner” atau etika sramanera yang difasilitasi oleh kepala wihara upper hamlet, namanya Thay Phap Don, kita diskusi tentang berbagi kamar dengan monastik lain, melihat keadaan di Plum Village cukup unik, karena kalau dibandingkan dengan Vietnam, para biksu berbagi kamar bersama biksu, dan sramanera juga demikian, namun di Plum Village, antara biksu dan sramanera dicampur agar para sramanera muda bisa belajar dari biksu senior, tegas Thay Phap Don. Kemudian beliau juga menjelaskan beberapa hal penting dalam berbagi kamar bersama.

Thay Phap Don

Thay Phap Don

Malam ada kegiatan mentor-mentee, karena mentor kita baru pulang dari Paris, jadi kita sebagai mentee sepakat untuk tidak datang ke kamar mentor, dengan niat agar mentor bisa istirahat, jadi aku nongkrong sebentar di ruang baca, setelah itu pulang ke kamar bersama Duc Trang.

Hari Kesepuluh: Ingin Lari

Hari ini tanggal 9 Desember, hari selasa lagi!!! senang sekali karena selasa adalah hari khusus monastik, datang pagi-pagi ke hermitage dan meditasi bersama Thay, ceramah pagi itu dengan topik “Hal apa yang membuat kita ingin lari dari kenyataan”, sungguh ceramah yang indah, Thay cerita bagaimana kehidupan keluarga dan monastik, apakah masuk monastik adalah sebuah pelarian? Apa yang membuat kita ingin lari terus, bersembunyi di pojok, tidak berani maju ke depan, refleksi yang sangat indah buat para monastik untuk betul-betul menyadari makna sesungguhnya dari karir monastik.

Setelah selesai ceramah kita meditasi jalan bersama, pagi itu dingin sekali, rumput-rumput terlihat banyak embun es, selesai meditasi jalan kita ramai-ramai main bola volley, ada yang main gasing, ada yang main badminton, ada yang kumpul dan ngobrol-ngobrol, serasa keluarga besar berkumpul bersama mengunjungi “kakek”, minggu lalu saya malu-malu dan tidak berani bicara dengan banyak orang, tapi minggu ini saya langsung terjun ikut main bola volley, asyik sekali, suasana betul-betul seperti kakak adik bermain bersama, saling memberi senyum, dukungan, dan menghadirkan suasana damai, segar, dan penuh keceriaan.

Main bola voli

Main bola voli

Baca lebih lanjut

Hari Kesembilan: Santai

Kembali lagi hari Senin, senang sekali karena setelah kemarin sibuk seharian, hari ini bisa santai dan bangun agak siang, karena terlalu dingin saya tidak bangun untuk sarapan, jadi menikmati hangat dibalik selimut.
Bangun sekitar pukul 8 pagi, kemudian pergi ruang cuci jubah, nangkring di sana sekitar 1.5 jam, jubah tinggal di masukkan ke dalam mesin cuci lalu tinggal nunggu selesai, karena tidak tahu mau ngapain jadi baca buku di perpus yang tidak jauh dari situ, tiba-tiba aku ingat minggu lalu Duc Trang memasak sisa makanan Thay yang tidak habis, jadi aku langsung kembali ke Dharma Breeze, menuju kamar Duc Trang yang bersebelahan dengan kamarku, ternyata benar dugaanku, mereka memasak makanan enak walaupun itu sisa makanan tadi malam, tapi ketika aku tiba roti tinggal sepotong dan masih ada tahu remes dengan saus soya yang wangi sekali, mereka ketawa-ketawa bilang, “telat luh, uda mau habis haha”, akhirnya saya santap habis satu potong roti dan tahu remes, ternyata Duc Trang ada satu bungkus kue bolu, entah dia beli di mana, kita makan bersama.

Baca lebih lanjut

Hari Kedelapan: Makan Formal

Hari Minggu 7 Desember, hari ini merupakan hari Mindfulness Day di Upper Hamlet, dan seperti biasa ada meditasi duduk di pagi hari, kemudian ceramah dari Thay, meditasi jalan, dan “makan formal” yaitu para anggota sangha monastik duduk sesuai dengan urutan tahun penahbisan, kebetulan mulai hari itu saya mendapat tugas rotasi kerja di dapur, jadi tidak bisa ikut “makan formal” di aula meditasi.

Menara Bel Upper Hamlet

Menara Bel Upper Hamlet

Mulai hari ini saya efektik masuk dalam kelompok keluarga (family group) rotasi kerja di dapur, kebetulan hari ini kelompok keluargaku mendapat tugas mencuci alat makan dan menyediakan air untuk mencuci piring untuk semua orang, jadi tidak bisa ikut “makan formal”, ada Br. Ceung Kuang, Br. Phap Khi, Br Phap Bieu, dan aku sendiri, salah satu anggota kelompok kami ke paris, jadi kami berempat bertugas, kita ambil makan masing-masing dan makan di dapur.

Baca lebih lanjut

Hari Ketujuh: Lembaran Baru

Hari sabtu tanggal 6 Desember pagi-pagi saya berjalan pelan dari Dharma Breeze menuju aula meditasi, sekitar 5 menit, jadwal pagi itu adalah guiding meditation, kemudian dilanjutkan dengan touching the earth (Bhumisparsha), setelah itu sarapan pagi.

Walaupun waktu sudah pukul 7.30 pagi, tapi di luar masih gelap, biasanya setelah pukul 8.00 di luar sana baru mulai terang. Setelah sarapan ada kelas Basic Practice in Plum Village dan Orientasi buat mereka yang baru datang, siang kita meditasi jalan, dan setelah itu makan siang, istirahat, meditasi kerja, dan sore ada sesi “memulai lembaran baru”, para monastik berkumpul di Zendo, dan para non monastik berkumpul di “Transformation Hall”. Memulai lembaran baru di Plum Village cukup unik, mereka meletakkan satu pot bunga kecil di tengah-tengah, dan mereka yang ingin berbicara maju ke depan dan mengambil pot bunga itu, kemudian duduk kembali ke tempatnya dan bicara sampai selesai dan setelah itu meletakkan pot bunga itu kembali ke tengah dan dilanjutkan dengan orang lain.

Transformation Hall

Transformation Hall

Memulai lembaran baru dengan cara menyebut kualitas-kualitas baik sahabat yang hadir, kalau seseorang merasa perlu meminta maaf atas kekilafannya maka ini saat baik, kemudian jika ada ganjalan hati atau hal yang membuat dirinya tidak nyaman selama satu minggu sebelumnya, maka dia boleh mengutarakannya, tentu saja dengan kata-kata penuh cinta kasih, dan yang lain berlatih mendengar secara mendalam.