Motivasi Mahayana April 7, 2008
Posted by nyanabhadra in refleksi.Tags: bodhicitta, buddha, dharma, emosi, mahayana, meditasi, motivasi, vairocana
add a comment
Motivasi Mahayana
Semua yang kita diskusikan di sini cukup signifikan, karena kita ingin merealisasi dua jenis tubuh (Tib. Sku, Skt. Kaya) Buddha, yaitu Prajna Sempurna Ajaran Buddha (Dharmakaya), kemudian Bentuk Tubuh Buddha (Tib. gZugs sKu, Skt. Rupakaya), Tubuh Dharma dan Tubuh Bentuk Buddha; ketika kita duduk meditasi, ini akan menjadi salah satu penyebab merealisasi badan jasmani fisik Buddha, ketika kita meletakkan batin pada posisi yang tepat, kita juga menciptakan penyebab terealisasinya batin pencerahan.
Ketika kita berbicara tentang benih Buddha (Tib. Sangs rGye kyi Rigs, Skt. Buddhagarbha), kita membicarakan potensi kita untuk merealisasi Buddha, tidak ada orang yang tidak ingin merealisasi tingkat Buddha sempurna, kesempurnaan fisik dan mental.
Mengapa Meditasi Maret 10, 2008
Posted by nyanabhadra in meditasi.Tags: batin, bodhgaya, buddha, dharma, kusa, meditasi, mental, prana, swastika
add a comment
Mengapa Meditasi?
Belajar, membaca, dan mendengar dharma bertujuan untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, tentu saja kita menginginkan suatu perubahan. Dari dulu hingga detik ini, kita selalu dikendalikan oleh batin, dan demikian pula batin kita dikendalikan oleh faktor mental pengganggu (Tib. nyon mongs, Skt. Kleśa), seperti nafsu keinginan, kemelekatan, rasa penolakan, marah, dan kehilangan akal, semua faktor mental pengganggu inilah yang menuntun kita melakukan perbuatan-perbuatan negatif, ujung-ujungnya perbuatan itulah yang membawa dampak buruk bagi diri kita sendiri dan orang lain; oleh karena itu, kita ingin merubah keadaan ini.
Lalu, apa yang akan kita lakukan untuk merubah keadaan tersebut? Kita belajar, berlatih, dan meditasi; semua tindakan ditujukan kepada pengendalian batin, dengan keadaan batin terkendali, kita bisa mengarahkan pikiran kita ke arah yang diinginkan, demikian pula ketika pikiran terkendali, kita bisa mengganti objek konsentrasi sesuai keinginan kita, dengan demikian kita menginginkan suatu keadaan mental yang terkendali.
Pertemuan Tiga Elemen April 30, 2007
Posted by nyanabhadra in 400 Stanza.Tags: aryadeva, cerek, dharma, elemen, penderitaan, samsara, urgent
add a comment
Pertemuan antara pendengar, ajaran, dan guru sangatlah sulit,
tidak peduli apakah siklus kelahiran bisa berakhir atau tidak.
(400 Stanza, 155; Aryadeva)
Pembebasan dari siklus berulang-ulang ini haruslah dibarengkan dengan pengertian terhadap sifat alami sistem kerja semua fenomena, untuk mengerti hal tersebut, kita perlu membuka diri kita, menjadi sebuah cerek yang siap menampung air, kita perlu melewati jalur yang tepat, Buddha telah datang ke dunia ini, oleh karena itu kita perlu menjadi sebuah cerek sesuai, Buddha datang ke dunia ini, dan beliau juga telah membabarkan dharma; ini merupakan tiga elemen yang sangat jarang terjadi, bahkan sangat sulit berkumpul menjadi satu.
Walupun tiga elemen ini sangat sulit dipertemukan, namun hari ini telah menjadi kenyataan, kita berkumpul di sini, menjadi cerek yang siap menerima ajaran, Dharma telah ada, Buddha telah memberikan pelajaran dharma, oleh karena itu kita masih punya harapan untuk melenyapkan penderitaan kita.
Meditasi Kematian Maret 26, 2007
Posted by nyanabhadra in meditasi.Tags: aryadeva, dharma, dukkha, kematian, meditasi, mispersepsi, motivasi, realitas
2 comments
Kematian dan Kebebasan
Mengerti dan mendiskusikan tentang Empat Kebenaran Mulia sangat penting, mencakup praktisi yang memiliki kapasitas kecil, menengah, dan agung; kapasitas kecil dan menengah fokus pada ajaran Empat Kebenaran Mulia, karena banyak membicarakan ketidakpuasan, ketidak-kekalan (Tib. Mi rtag pa, Skt. Anitya), kematian, ketidakpuasan dalam bentuk kasar yang bisa dilihat dengan jelas, seperti kematian, namun tidak membicarakan secara mendetail tentang proses terjadinya kematian yang perlahan-lahan beserta proses-proses detailnya.
Apabila kita membaca karya-karya agung para guru spiritual, kita akan menemukan, inilah topik-topik yang dipaparkan di awal, manusia terbebas dari berbagai kondisi yang sulit, menikmati berbagai kemudahan, para guru mengingatkan kita berulang kali, tampaknya ini merupakan hal yang cukup signifikan untuk direnungkan baik-baik.
Syair Permohonan Ajaran Maret 25, 2007
Posted by nyanabhadra in refleksi.Tags: ajaran, batin, buddha, dharma, guru, kematian, manjushri, metode, motivasi, pelita, spritual, syair, tekad
add a comment
Dalam Praktik Tujuh Bagian (Tib. yan lag bdun), ada satu syair yang intinya adalah memohon Buddha, pemenang, penakhluk berjaya di seluruh penjuru untuk menyalakan pelita ajaran dengan mengajarkan Dharma demi mengusir ketidaktahuan (Tib. ma rig pa, Skt. Avidyā), kegelapan dari delusi kedungguan (Tib. gti mug, Skt. Moha), yang merupakan sumber dari segala derita nestapa, semua tindakan kita dilandasi kebinggunan yang mengakar pada faktor mental pengganggu (Tib. nyon mongs, Skt. Kleśa), nyalakanlah pelita ajaran demi kebaikan semua makhluk.









