Kerbauku Kabur! Oktober 16, 2008
Posted by nyanabhadra in refleksi.Tags: buddha, kerbau, pengembala
comments closed
Suatu hari seorang gembala lingak-linguk, lari ke sana ke sini, sampai dihadapan Buddha yang sedang bersama beberapa orang biksu, ia bertanya, “Oh Bhante, apakah engkau melihat kerbauku lewat di sini?”
Buddha menjawab, “Pengembala, kami dari tadi duduk di sini tidak melihat ada kerbau yang lewat.”
Pengembala itu kemudian bersedu-sedan berguman, “Kerbauku kabur entah kemana, hasil panenku juga di gerogotin tikus sampai habis, pupuslah kehidupanku hidup ini sungguh menderita.”
Janji Teratai September 4, 2008
Posted by nyanabhadra in Indonesia, Thich Nhat Hanh.Tags: buddha, dipankara, siddharta, teratai, Thich Nhat Hanh, yasodhara
comments closed
Janji Teratai
Oleh Bhante Thich Nhat Hanh
Putri Yasodhara mengundang Buddha, Kaludayi, Nagasamala, dan Ratu Prajapatti untuk makan bersama di tempatnya. Setelah selesai makan, Putri Yasodhara mengundang semuanya berkunjung ke dusun miskin, tempat yang selalu ia kunjungi untuk memberikan bantuan kepada anak-anak. Rahula juga ikut bersama mereka. Putri Yasodhara memandu mereka menuju pohon jambu air, di situlah Siddharta muda duduk bermeditasi pertama kalinya. Buddha merasa kagum, seolah-olah kejadian itu baru terjadi kemarin, padahal sudah 27 tahun yang lalu, pohon jambu air itu sudah tumbuh besar.
Makan Untuk Kedamaian Agustus 9, 2008
Posted by nyanabhadra in Indonesia, Thich Nhat Hanh, refleksi.Tags: buddha, kelaparan, kesadaran, konsumsi, perhatian, Thich Nhat Hanh
comments closed
Makan untuk menciptakan kedamaian –
Seni dan Ilmu konsumsi dengan penuh kesadaran
oleh Bhante Thich Nhat Han
Segala sesuatu membutuhkan makanan untuk bisa tetap bertahan hidup dan tumbuh berkembang, tentu saja termasuk cinta kasih maupun kebencian yang ada dalam diri kita. Cinta kasih merupakan sesuatu yang hidup, demikian pula dengan kebencian. Apabila engkau tidak memberikan gizi kepada cinta kasihmu, cinta kasih itu akan mati. Apabila engkau memotong sumber nutrisi kepada kekerasan, maka kekerasan dalam dirimu juga akan mati. Oleh sebab itu, jalur tuntutan yang diberikan oleh Buddha merupakan jalur menuju konsumsi dengan penuh kesadaran.
Hanya Pencerahan Sempurna Juni 8, 2008
Posted by nyanabhadra in Indonesia, meditasi, refleksi.Tags: buddha, chandrakirti, derita, etika, ibu, maitreya, pencerahan, transformasi
comments closed
Hanya Pencerahan Sempurna
Transformasi
Tujuan kita belajar adalah mencoba untuk merubah semua aktivitas ucapan, badan jasmani, dan mental menjadi positif dan sekaligus mengatasi berbagai keterbatasan kita; yang ingin kita lakukan adalah merubah tiga pintu itu menjadi bajik atau positif, tentu saja banyak cara yang bisa dilakukan untuk melakukan transformasi mental, dan ajaran Buddha merupakan metode yang sangat ampuh untuk itu.
Guru besar India, Chandrakirti dalam “Madhyamikavatara” menyatakan bahwa batin memiliki kekuatan dan pemberi dampak sangat besar dalam praktik ajaran Buddha, perlu anda ketahui bahwa hal paling pertama yang harus kita siapkan adalah berkaitan dengan mental dan cara pandang kita yaitu dengan melakukan transformasi cara pandang, dan kemudian hal ini akan mencakup hal-hal berikutnya.
Guru Spiritual April 21, 2008
Posted by nyanabhadra in Dagpo Rinpoche, Indonesia, lamrim, refleksi.Tags: buddha, Dagpo Rinpoche, emanasi, guru spiritual, lamrim, mahayana, murid
comments closed
Guru Spiritual
Oleh Dagpo Rinpoche
Kualifikasi Guru Spiritual
Dalam Lamrim Chenmo menyebutkan tentang [1] definisi seorang guru spiritual yang menenuhi kualifikasi, [2] definisi seorang murid yang memenuhi kualifikasi, dan [3] bagaimana murid tersebut bertumpu kepada guru spiritual tersebut.
Dalam “Mahayana-sutra-alamkara” terdapat sepuluh kualitas seorang guru spiritual, di masa kemerosotan ini, seorang murid melihat gabungan kualitas baik dan buruk seorang guru spiritual, sungguh sulit bagi seorang murid untuk melihat dengan jelas sepuluh kualitas guru spiritual itu.
[1] Sila, [2] Samadhi, [3] Pannya, [4] pengetahuan dalam, [5] Virya, [6] paham Tripitaka, [7] pengertian tentang shunyata, [8]kemampuan mengajar, [9] maha karuna, [10] membimbing murid tanpa lelah. Minimal memiliki 5 kualifikasi, yaitu Sila, Samadhi, Pannya, mengerti secara mendalam tentang Shunyata (walaupun belum merealisasi shunyata), maha karuna; kalau ada 5 kualifikasi ini sudah dianggap baik.
Motivasi Mahayana April 7, 2008
Posted by nyanabhadra in refleksi.Tags: bodhicitta, buddha, dharma, emosi, mahayana, meditasi, motivasi, vairocana
add a comment
Motivasi Mahayana
Semua yang kita diskusikan di sini cukup signifikan, karena kita ingin merealisasi dua jenis tubuh (Tib. Sku, Skt. Kaya) Buddha, yaitu Prajna Sempurna Ajaran Buddha (Dharmakaya), kemudian Bentuk Tubuh Buddha (Tib. gZugs sKu, Skt. Rupakaya), Tubuh Dharma dan Tubuh Bentuk Buddha; ketika kita duduk meditasi, ini akan menjadi salah satu penyebab merealisasi badan jasmani fisik Buddha, ketika kita meletakkan batin pada posisi yang tepat, kita juga menciptakan penyebab terealisasinya batin pencerahan.
Ketika kita berbicara tentang benih Buddha (Tib. Sangs rGye kyi Rigs, Skt. Buddhagarbha), kita membicarakan potensi kita untuk merealisasi Buddha, tidak ada orang yang tidak ingin merealisasi tingkat Buddha sempurna, kesempurnaan fisik dan mental.
Meditasi Nafas Maret 31, 2008
Posted by nyanabhadra in meditasi.Tags: batin, buddha, energi, meditasi, mental, napas, netral, prajna, samatha, visualisasi
add a comment
Praktik meditasi kita fokuskan pada penghembusan keluar nafas, dengan bernafas keluar, kita bayangkan semua pikiran negatif pergi meninggalkan kita melalui lubang hidung yang berbentuk awan hitam kemudian melebur dan hilang, kita perlu melakukannya beberapa kali, dengan demikian batin kita menjadi bersih dan jernih.
Jadi, batin dan badan jasmani terkoneksi sangat erat dan dekat, energi batin bagaikan kuda, dan pikiran bagaikan joki, jadi antara kuda dan joki memiliki koneksi sangat erat, dengan demikian kita membayangkan energi hitam keluar melalui nafas keluar.
Dengan membayangkan energi hitam itu keluar, maka kita memvisualisasikan objek perlindungan, visualisasikan para Buddha dan bodhisatwa di depan kita, dan kemudian kita melakukan meditasi nafas dengan fokus pada nafas masuk semua berkah, prajna, pencapaian, welas asih, kekuatan para Buddha dan bodhisatwa.
Meditasi Dengan Batin? Maret 24, 2008
Posted by nyanabhadra in meditasi.Tags: batin, buddha, emosi, mahayana, meditasi, motivasi, nafas, samatha
add a comment
Perhatikan Batinmu Dulu
Kita tidak dianjurkan melakukan meditasi begitu saja tanpa persiapan, namun pertama perhatikan terlebih dahulu apa yang sedang terjadi dalam batin, pertama-tama arahkan fokus kepada diri kita sendiri dan periksalah apa yang sedang terjadi dalam batin kita.
Akar dari samsara maupun Nirvana adalah batin kita, jadi sangat penting untuk menempatkan batin pada kerangka yang tepat dan membangkitkan niat luhur, ciptakanlah motivasi yang tepat, meditasi bukanlah diukur dari seberapa lama anda sanggup duduk diam, namun seberapa tepat batin dan motivasi yang dibangkitkan.
Atisa Dipamkara menyebutkan, apabila akar pohon mengandung racun, maka semua cabang, daun, dan buah yang tumbuh juga akan beracun dalam kadar yang banyak maupun sedikit; apabila akarnya bersih dan murni, maka hasilnya juga akan bagus, jadi sangat penting untuk memulai dengan motivasi yang baik yang nanti akan memberi efek kepada bagian lain. Suatu praktik tergolong suatu praktik spiritual atau bukan, praktik mahayana atau bukan, semua ini tergantung pada motivasi yang melandasinya.
Postur Meditasi Vairocana Maret 17, 2008
Posted by nyanabhadra in meditasi.Tags: buddha, damai, duduk, elemen, lotus, meditasi, prana, vairocana, vajra
2 comments
Ada tujuh postur meditasi yang disebut postur meditasi Buddha Vairocana (Tib. rnam par snang mdzad), yaitu posisi teratai (lotus) penuh (Tib. rdo rje skyil krung), atau setengah teratai. Untuk memulai dengan posisi ini memang sulit, namun pelan-pelan kita akan terbiasa dengan posisi seperti itu, dan tubuh kita juga menjadi semakin lentur, dan memberi efek lentur kepada pikiran juga.
Posisi itu sangat ideal, ketika seseorang sudah mulai terbiasa dengan postur itu dalam kurun waktu lama, maka ini akan memberi dukungan kepada pikiran. Duduk dalam postur teratai penuh maupun setengah teratai memberikan posisi duduk stabil, postur ini juga yang praktikkan oleh para Arahat dan Buddha, merupakan posisi yang sempurna.
Mengapa Meditasi Maret 10, 2008
Posted by nyanabhadra in meditasi.Tags: batin, bodhgaya, buddha, dharma, kusa, meditasi, mental, prana, swastika
add a comment
Mengapa Meditasi?
Belajar, membaca, dan mendengar dharma bertujuan untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, tentu saja kita menginginkan suatu perubahan. Dari dulu hingga detik ini, kita selalu dikendalikan oleh batin, dan demikian pula batin kita dikendalikan oleh faktor mental pengganggu (Tib. nyon mongs, Skt. Kleśa), seperti nafsu keinginan, kemelekatan, rasa penolakan, marah, dan kehilangan akal, semua faktor mental pengganggu inilah yang menuntun kita melakukan perbuatan-perbuatan negatif, ujung-ujungnya perbuatan itulah yang membawa dampak buruk bagi diri kita sendiri dan orang lain; oleh karena itu, kita ingin merubah keadaan ini.
Lalu, apa yang akan kita lakukan untuk merubah keadaan tersebut? Kita belajar, berlatih, dan meditasi; semua tindakan ditujukan kepada pengendalian batin, dengan keadaan batin terkendali, kita bisa mengarahkan pikiran kita ke arah yang diinginkan, demikian pula ketika pikiran terkendali, kita bisa mengganti objek konsentrasi sesuai keinginan kita, dengan demikian kita menginginkan suatu keadaan mental yang terkendali.









