Berhenti Bertindak! Mei 7, 2007
Posted by nyanabhadra in 400 Stanza.Tags: aryadeva, bajik, batin, berhenti, meditasi, mental, pasir, yama
add a comment
Jumlah pasir di pantai bagaikan kelahiran kembali ke alam rendah, dan satu kantong kecil pasir bagaikan kelahiran ke alam lebih baik, saat ini juga, kita sedang menikmati kebebasan dan keberuntungan, kita perlu mengetahui dan menyadari keadaan sekarang ini, walaupun kita tidak bisa mencapai pembebasan dalam satu kehidupan ini, tapi ada baiknya kita memastikan diri untuk tidak terlahir ke alam rendah, inilah nasihat Aryadeva, oke!
Pertemuan Tiga Elemen April 30, 2007
Posted by nyanabhadra in 400 Stanza.Tags: aryadeva, cerek, dharma, elemen, penderitaan, samsara, urgent
add a comment
Pertemuan antara pendengar, ajaran, dan guru sangatlah sulit,
tidak peduli apakah siklus kelahiran bisa berakhir atau tidak.
(400 Stanza, 155; Aryadeva)
Pembebasan dari siklus berulang-ulang ini haruslah dibarengkan dengan pengertian terhadap sifat alami sistem kerja semua fenomena, untuk mengerti hal tersebut, kita perlu membuka diri kita, menjadi sebuah cerek yang siap menampung air, kita perlu melewati jalur yang tepat, Buddha telah datang ke dunia ini, oleh karena itu kita perlu menjadi sebuah cerek sesuai, Buddha datang ke dunia ini, dan beliau juga telah membabarkan dharma; ini merupakan tiga elemen yang sangat jarang terjadi, bahkan sangat sulit berkumpul menjadi satu.
Walupun tiga elemen ini sangat sulit dipertemukan, namun hari ini telah menjadi kenyataan, kita berkumpul di sini, menjadi cerek yang siap menerima ajaran, Dharma telah ada, Buddha telah memberikan pelajaran dharma, oleh karena itu kita masih punya harapan untuk melenyapkan penderitaan kita.
Samudra Samsara April 16, 2007
Posted by nyanabhadra in 400 Stanza.Tags: aryadeva, derita, ombak, samsara, samudra, takut, tombak, usia, yama
add a comment
Renungkanlah situasi kita saat ini, berhentilah berbuat hal-hal yang menjerumuskanmu sehingga tenggelam dalam siklus lahir, sakit, tua, mati berulang-ulang, kita perlu merenungkan kerugian-kerugian samsara, lantas ada apa dengan tindakan buruk kita yang telah dilandasi oleh kekotoran batin?
Apabila samudra penderitaan ini tiada akhirnya,
lantas, mengapa engkau sang naif tidak takut tenggelam di dalamnya?
(400 Stanza, 151; Aryadeva)
Meditasi Kematian Maret 26, 2007
Posted by nyanabhadra in meditasi.Tags: aryadeva, dharma, dukkha, kematian, meditasi, mispersepsi, motivasi, realitas
2 comments
Kematian dan Kebebasan
Mengerti dan mendiskusikan tentang Empat Kebenaran Mulia sangat penting, mencakup praktisi yang memiliki kapasitas kecil, menengah, dan agung; kapasitas kecil dan menengah fokus pada ajaran Empat Kebenaran Mulia, karena banyak membicarakan ketidakpuasan, ketidak-kekalan (Tib. Mi rtag pa, Skt. Anitya), kematian, ketidakpuasan dalam bentuk kasar yang bisa dilihat dengan jelas, seperti kematian, namun tidak membicarakan secara mendetail tentang proses terjadinya kematian yang perlahan-lahan beserta proses-proses detailnya.
Apabila kita membaca karya-karya agung para guru spiritual, kita akan menemukan, inilah topik-topik yang dipaparkan di awal, manusia terbebas dari berbagai kondisi yang sulit, menikmati berbagai kemudahan, para guru mengingatkan kita berulang kali, tampaknya ini merupakan hal yang cukup signifikan untuk direnungkan baik-baik.
Transformasi Maret 18, 2007
Posted by nyanabhadra in refleksi.Tags: aryadeva, chandrakirti, gelembung, genting, guru, maitreya, samsara, transformasi
add a comment
Transformasi
Tujuan utama belajar Buddhadharma adalah untuk merubah aktivitas fisik, ucapan, dan pikiran menjadi positif, kemudian berusaha mengurangi perbuatan negatif, dan juga memperbesar kapasitas kita, intinya terletak pada transformasi sudut pandang menjadi positif. Banyak cara untuk melakukan transformasi, bagi saya, ajaran Buddha sangat membantu dalam hal ini.
Chandrakirti (Tib. zla ba grags pa) dalam Madhyamaka-avatara (Tib. dbu-ma la ‘jug pa) menyatakan bahwa pikiran merupakan faktor maha penting dalam mempraktikkan ajaran Buddha, transformasi cara pandang mulai dari pikiran, kemudian transformasi ini akan memberi pengaruh kepada ucapan dan badan jasmani.









