Pujian Juli 5, 2009
Posted by nyanabhadra in Indonesia, Thich Nhat Hanh, refleksi.Tags: arogan, bangga, monastik, pujian, Thich Nhat Hanh
trackback
Suatu ketika ada seorang anak muda bertanya kepada Thay, “Saya punya rasa kurang nyaman ketika menerima pujian orang lain, ketika aku pikir kembali, pujian itu sungguh membuat saya kurang bahagia, ada sedikit perasaan sombong. Saya melihat begitu banyak mata tertuju padamu, memujimu, namun engkau tetap begitu tenang dan rendah hati juga begitu penuh kewaspadaan. Apakah engkau ada nasihat untuk saya agar bisa menerima pujian dengan penuh kesadaran?”
Thay menjawab, “Saya sebagai seorang monastik, kalau bicara dari sudut sebagai seorang monastik, kami ditahbiskan dalam keluarga monastik buddhis, mengenakan jubah sederhana, situasi berubah drastis, banyak sahabat awam yang ingin memberi hormat kepadamu karena engkau seorang monastik. Bagi seorang yang baru saja ditahbiskan tentu saja sangat menyulitkan, karena mereka sudah menjadi seseorang yang dihormati, jika mereka tidak berlatih dengan baik, maka mereka akan tenggelam dalam kebanggaan dan kesombongan.
Oleh karena itu mereka yang baru saja ditahbiskan diintruksikan untuk menerima penghormatan dari sahabat awam, dia seharusnya tidak menolak, mereka tidak boleh bilang “Jangan-jangan bersujud, karena saya seorang pemula, saya tidak punya kebajikan apa pun” Jika seseorang mengatakan demikian maka sahabat awam akan sangat kecewa, karena engkau mengenakan jubah monastik buddhis yang merupakan perwakilan dari tiga permata (Triratna: Buddha, Dharma, dan Sangha).
Jadi engkau memberikan kesempatan kepada mereka untuk memberi hormat kepada tiga permata, namun pada saat bersamaan engkau juga perlu berlatih meditasi tiada “aku”, engkau duduk dengan tenang, tegap, engkau tidak perlu berpura-pura untuk menjadi biksu atau biksuni sempurna, namun engkau perlu melakukannya dengan sebaik-baiknya, engkau duduk dengan tenang, damai, kemudian mengikuti keluar masuknya napas, kemudian engkau bangkitkan pikiran demikian, “Mereka memberi hormat sujud kepada tiga permata bukan kepada saya sebagai sang “aku”, apabila engkau melakukan demikian maka engkau tidak akan terhanyut oleh perasaan yang muncul ketika mereka memberi hormat sujud padamu, kalau tidak, seorang biksu atau biksuni bisa “mati” karena arogansinya, karena banyak sahabat awam yang datang bersujud dihadapannya menggelembungkan arogansinya semakin besar, mereka semakin yakin bahwa dirinya memang orang sangat penting.
Oleh karena itu, para monastik wajib berlatih meditasi “tiada aku”agar terbebas dari arogansinya, meditasi itu juga wajib dilatih oleh para sahabat awam yang sudah menjadi guru dharma, demikian juga para sahabat awam juga. Apabila seseorang sahabat awam telah menjadi pembimbing atau menjadi guru dharma, maka dia wajib berlatih seperti seorang monastik, kalau ada orang yang mau memberi hormat maka izinkan mereka memberi hormat tapi dalam hati engkau perlu membangkitkan pikiran bahwa sebetulnya mereka memberi hormat kepada tiga permata bukan kepadaku, bukan memberi hormat kepada egoku.
Suatu ketika, saya mentransmisikan 5 latihan penuh kesadaran, ada ribuan orang berlutut di hadapan saya, kemudian saya selalu memvisualisasikan guru saya berdiri persis di belakang dan Buddha berdiri di belakang lagi dan mereka selalu memberi dukungan kepada saya, saya sadar sepenuhnya bahwa mereka memberi hormat sujud kepada guru leluhur dan Buddha, saya hanyalah sebuah instrumen, oleh karena itu saya tidak pernah menderita, saya juga tidak pernah merasa malu, karena saya terbebas dari sang “aku”, engkau juga bisa melakukannya.
Seandainya engkau orang pintar, ada orang datang memuji, maka engkau boleh menjawab bahwa kepintaran itu barangkali diturunkan oleh salah satu leluhurku, saya seharusnya tidak semestinya bangga atas kepintaran itu, dengan demikian engkau bebas, engkau mengizinkan orang lain untuk memberikan pujian namun engkau tidak terhanyut.
Latihan seperti ini sangat mempan bagi saya pribadi, saya tidak berubah menjadi biksu manja ketika banyak orang datang memberi hormat sujud, bahkan ketika saya menulis kaligrafi, saya bilang: ini bukanlah saya yang menulisnya, para guru leluhur sesepuh yang menulis kaligrafi, oleh karena itu saya bebas! Saya rasa engkau boleh mengadopsi jenis meditasi ini, engkau tidak perlu lagi malu, engkau tidak perlu lagi menderita, sekarang engkau bisa tersenyum pada saat bersamaan berlatih rendah hati.
Selamat mencoba!










Jikalau, penghalang antara manusia dan Tuhan/Dewa/apapun istilahnya ditiadakan, pastilah manusia tersadar, betapa hanya Tuhan/Dewa/apapun istilahnya yang pantas mendapat pujian, dan hanya Tuhan/Dewa/apapun istilahnya yang pantas sombong.
Saya selalu suka berkunjung ke sini, seperti memasuki rumah masa kecil yg nyaman dan teduh.
silakan duduk dan menikmati secangkir teh dan makanan kecil, menyentuh kedamaian, rasa nyaman dan teduh, menjalin persaudaraan dalam spiritual agar mampu meneruskan jalan tanpa akhir ini.
Sudah lama tidak mampir ke kedai bro…sangat menikmati sekali tulisan2nya…gan en yah…