jump to navigation

Bunuh Diri Juni 22, 2009

Posted by nyanabhadra in Indonesia, Thich Nhat Hanh, refleksi.
Tags: , ,
trackback

Ada pertanyaan tentang bagaimana mencegah teman kita yang ingin bunuh diri, Thay bilang tidak ada gunanya berdebat dengan orang yang mau bunuh diri, sebaiknya kita jangan mencegahnya, kalau kita mencoba untuk mencegahnya maka orang itu akan menganggap kita sebagai penghambat niatnya untuk mati, ini bisa memunculkan efek negatif. Mereka sudah tidak mau mendengar lagi nasihat kita tentang ide atau gagasan bahwa bunuh diri itu tidak baik, merugikan dan membuat orang lain menderita, teori-teori ini tidak akan mempan pada saat itu.

Orang yang memutuskan untuk bunuh diri merasa bahwa mengakhiri hidup berarti mengakhiri penderitaan, namun ini kesimpulan keliru, mereka akan terus berlanjut ke bentuk lain, penderitaan lain dalam bentuk lain, bahkan menderita lebih banyak lagi, dan membuat orang lain semakin menderita. Tentu saja tidak ada gunanya lagi memberitahu orang itu tentang ide atau gagasan seperti ini, mereka tak mau mendegar teori seperti ini lagi. Mereka percaya terhadap anihilisme bahwa ketika saya mati maka sang ‘aku’ sudah tidak ada lagi maka sang derita juga tidak ada lagi bersama matinya aku. Tidak ada derita karena sudah tidak ada sang penderita lagi. Jelas sekali ini disebut pandangan keliru.

Kita perlu cara pintar, mungkin kita boleh bilang, “oke kalau kamu mau bunuh diri boleh saja, it’s oke, tapi sebelum kamu bunuh diri bolehkah kamu membantu saya akan satu hal saja, karena aku membutuhkan bantuanmu untuk mendengarkan cerita dariku” dengan pintar kamu bercerita untuk menggiring dia keluar dari niat (mood) bunuh diri, jangan menunjukkan gelagat mau mencegahnya untuk bunuh diri, kamu memanggil benih karuna dalam diri orang itu, jadi barangkali sebelum dia mati mungkin saja dia mau berbuat sesuatu yang indah yaitu mendengar ceritamu, jadi kamu menyentuh benih metta karuna-nya dalam dirinya sehingga niat bunuh diri berkurang, bisa jadi dia mengurungkan niatnya apabila engkau terampil dalam cerita itu.

dikutip dari sesi tanya jawab “retret 21 hari” 2009 di Plumvillage

Komentar»

1. Linda - Juni 29, 2009

Iya, pengalaman memberitahu, semakin kita melarang seseorang bun-dir, dia akan berpikir knp “hak azasi”nya tdk di hormati, semakin dia mau melaksanakan apa yg dia kira itu “hak”nya dia.

Kasiannya memang bagi orang2 yg belum mengerti, dikira akhir dari nyawanya adalah akhir dari segalanya, tidak tahunya adalah permulaan dari segala penderitaan dari ulah bun-dir itu, tapi sayangnya masih banyak skl yg samasekali tidak mengerti akan hal ini.

Saya setuju, org yg punya niat bun-dir, dialihkan terlebih dahulu perhatiannya.

2. CY - Juli 1, 2009

Terimakasih atas bingkisan berharga ini, bhante. Bolehkan saya minta bingkisan lanjutannya yaitu kira2 cerita apa kira2 yg cocok?

*salam damai dan cinta kasih*

3. miftahrahman - Juli 5, 2009

tulisan yang sangat berharga

4. artikel psikologi - Agustus 20, 2009

depresi yang tidak diterapi dengan baik bisa berakhir dengan bunuh diri :)

5. mbah gendeng - September 18, 2009

wah bagiku c bunuh diri tu g ad enaknya malah rugi besar bos……..