jump to navigation

Harmonis = Sangha Juni 22, 2009

Posted by nyanabhadra in Indonesia, Thich Nhat Hanh, refleksi.
Tags: , ,
add a comment

Ada seorang anggota OI (Order of Interbeing) dari Perancis bertanya, mereka selalu kurang harmonis dalam menentukan atau mengambil keputusan tentang kegiatan OI, apakah harus mengadakan pertemuan (meeting) bersama monastik atau hanya pertemuan sesama sahabat awam saja, apakah harus membentuk sebuah asosiasi untuk bergerak dalam bidang sosial atau pelayanan mewakili OI atau bergabung dengan organisasi sosial yang sudah ada untuk melakukan kegiatan sosial. Pertanyaanya adalah bagaimana saya bisa bantu anggota sangha agar hidup harmonis dan mohon Thay memberikan nasihat.

Menurut Thay, cara terbaik untuk membantu sangha hidup dalam harmonis adalah sikapmu, bagaimana kamu bertindak dalam sangha, jangan ikut terjun ke dalam perselisihan (dispute), jangan memihak, kamu cukup senyum kepada semua sangha dan tidak lama kemudian kamu mengundang lonceng berbunyi, meminta semua sangha untuk bernapas, dan bertanya “Dear brothers and sister, are we already a good sangha? Do we have enough harmony yet? If we don’t have enough harmony, then there is no point to do anything, because a sangha means harmony!

Kalau tidak ada harmonis maka itu bukan sangha sesungguhnya, kalau tidak ada sangha sesungguhnya maka tidak ada buddha dalam hati kita, jadi kehadiranmu dalam sangha bagaikan bunga segar atau lonceng kesadaran, saya rasa ini cara terbaik untuk membantu membangun sangha.

dikutip dari sesi tanya jawab “retret 21 hari” 2009 di Plumvillage

Bunuh Diri Juni 22, 2009

Posted by nyanabhadra in Indonesia, Thich Nhat Hanh, refleksi.
Tags: , ,
5 comments

Ada pertanyaan tentang bagaimana mencegah teman kita yang ingin bunuh diri, Thay bilang tidak ada gunanya berdebat dengan orang yang mau bunuh diri, sebaiknya kita jangan mencegahnya, kalau kita mencoba untuk mencegahnya maka orang itu akan menganggap kita sebagai penghambat niatnya untuk mati, ini bisa memunculkan efek negatif. Mereka sudah tidak mau mendengar lagi nasihat kita tentang ide atau gagasan bahwa bunuh diri itu tidak baik, merugikan dan membuat orang lain menderita, teori-teori ini tidak akan mempan pada saat itu.

Orang yang memutuskan untuk bunuh diri merasa bahwa mengakhiri hidup berarti mengakhiri penderitaan, namun ini kesimpulan keliru, mereka akan terus berlanjut ke bentuk lain, penderitaan lain dalam bentuk lain, bahkan menderita lebih banyak lagi, dan membuat orang lain semakin menderita. Tentu saja tidak ada gunanya lagi memberitahu orang itu tentang ide atau gagasan seperti ini, mereka tak mau mendegar teori seperti ini lagi. Mereka percaya terhadap anihilisme bahwa ketika saya mati maka sang ‘aku’ sudah tidak ada lagi maka sang derita juga tidak ada lagi bersama matinya aku. Tidak ada derita karena sudah tidak ada sang penderita lagi. Jelas sekali ini disebut pandangan keliru.

Kita perlu cara pintar, mungkin kita boleh bilang, “oke kalau kamu mau bunuh diri boleh saja, it’s oke, tapi sebelum kamu bunuh diri bolehkah kamu membantu saya akan satu hal saja, karena aku membutuhkan bantuanmu untuk mendengarkan cerita dariku” dengan pintar kamu bercerita untuk menggiring dia keluar dari niat (mood) bunuh diri, jangan menunjukkan gelagat mau mencegahnya untuk bunuh diri, kamu memanggil benih karuna dalam diri orang itu, jadi barangkali sebelum dia mati mungkin saja dia mau berbuat sesuatu yang indah yaitu mendengar ceritamu, jadi kamu menyentuh benih metta karuna-nya dalam dirinya sehingga niat bunuh diri berkurang, bisa jadi dia mengurungkan niatnya apabila engkau terampil dalam cerita itu.

dikutip dari sesi tanya jawab “retret 21 hari” 2009 di Plumvillage

Toksin dan Minyak Wijen Juni 22, 2009

Posted by nyanabhadra in refleksi.
Tags: , ,
1 comment so far

Selama retret 21 hari, Thay (Bhante Thich Nhat Hanh) memberikan usul untuk berkumur pagi ketika bangun tidur dan malam sebelum tidur dengan menggunakan takaran 1 “sendok teh” minyak wijen, dikumur selama 15 sampai 20 menit, kumur ke kiri dan ke kanan, menggunakan lidah untuk membantu komunikasi minyak wijen dengan organ tubuh agar bisa mengeluarkan semua toksin dan racun dalam tubuh kita, setelah kumur-kumur kita buang minyak itu dan wajib membasuh mulut kita beberapa kali kemudian boleh menggosok gigi.

Thay sudah mencobanya, ini salah satu cara mengeluarkan racun dalam tubuh, selama 15 atau 20 menit kumur-kumur kita boleh melakukan meditasi kumur kemudian kita bisa menjalin komunikasi antara organ tubuh dengan minyak wijen yang sudah bercampur dengan ludah kita, komunikasi ini yang menarik semua toksin dan racun, campuran minyak wijen dan ludah kita mampu menarik dan mengikat racun, setelah selesai kita buang kumuran itu, banyak toksin tubuh kita yang keluar, jadi jangan di buang sembarangan, sebaiknya di buang ke toilet dan di flush.

Kita semua orang di plum village diberikan sekian takaran dan kita coba setiap hari selama satu minggu. Tak cuma toksin dalam seluruh tubuh bisa tertarik oleh minyak ini, namun katanya gigi kita akan bersih dari plak dan membuat gusi lebih kuat. Katanya sih ada di website, coba cari pakai kunci “oil pulling”.

Hari pertama saya coba cuman 15 menit, ada brothers yang lain hanya kumur 10 menit, efeknya sih betul-betul ada, mulut tidak begitu bau ketika bangun pagi, gigi juga terasa bersih dan segar, dan badan saya setelah kena tipus mulai sembuh dan segar kembali, saya sudah mulai main basket, main bola voli, juga kemaren sore sudah mulai lazy day selama 5 hari, jadi kita ramai-ramai main sepak bola, asyik sekali.

silakan lihat-lihat ke http://www.oilpulling.com/