Melepaskan Simpul Kemarahan Februari 7, 2009
Posted by nyanabhadra in Thich Nhat Hanh, meditasi, refleksi.Tags: agresi, kemarahan, simpul, smrti
trackback
Melepaskan Simpul Kemarahan
Oleh Thich Nhat Hanh
Bagi saya, berbahagia berarti berkurangnya penderitaan. Kalau kita tidak sanggup mentransformasikan luka dalam diri sendiri, tentu saja kebahagiaan tidak mungkin hadir.Banyak orang mencari kebahagiaan di luar dirinya sendiri, namun kebahagiaan sesungguhnya berasal dari dalam diri kita. Kultur kita mengajarkan bahwa kebahagiaan hadir ketika seseorang memiliki banyak uang, kekuasaan dan posisi tinggi dalam masyarakat, tapi apabila kita menelaah dengan cermat, engkau akan melihat begitu banyak orang kaya dan tersohor yang tidak bahagia, banyak diantara mereka yang bunuh diri.
Pada zaman Buddha, para biksu dan biksuni tidak punya apa pun kecuali 3 pasang jubah dan satu mangkuk, namun mereka bahagia, karena mereka punya sesuatu yang sangat berharga yaitu kebebasan. Menurut ajaran Buddha, kondisi paling dasar untuk berbahagia adalah kebebasan. Kita tidak berbicara dalam konteks kebebasan politik, namun kebebasan dari formasi (bentukan) mental kemarahan, kekecewaan, kecemburuan, dan delusi. Formasi mental ini disebut sebagai racun oleh Buddha. Selama racun ini masih ada dalam hati kita, kebahagiaan tidak bisa terwujud. Agar terbebas dari kemarahan, kita perlu praktik, entah engkau seorang Kristiani, Muslim, Buddhis, Hindu atau Yahudi. Kita tidak bisa meminta Buddha, Jesus, Tuhan atau Nabi Muhammad untuk menyingkirkan kemarahan dari hati kita. Ada instruksi sangat jelas tentang bagaimana mentransformasikan keserakahan, kemarahan, dan ketidaktahuan dalam diri kita. Apabila kita melaksanakan instruski dan belajar menangani penderitaan, maka kita bisa membantu menangani penderitaan orang lain.
Simpul Kemarahan
Dalam kesadaran kita ada balok-balok kepedihan, kemarahan, frustasi yang disebut formasi internal. Balok itu disebut sebagai simpul karena inilah yang mengikat kita dan menyebabkan kita tidak bebas.
Ketika ada orang mencerca kita atau membuat kita merasa tidak nyaman, formasi internal tercipta dalam kesadaran. Jika engkau tidak tahu bagaimana melepaskan simpul dan metransformasikannya, simpul itu akan berdiam di dalam kesadaranmu dalam waktu lama, dan di kesempatan lain ketika ada orang yang mengatakan atau melakukan sesuatu yang memicu simpul itu, maka formasi internal itu akan bertambah kuat. Sebagai simpul atau balok kepedihan dalam diri kita, formasi internal memiliki kekuatan untuk mendorong dan mendikte prilaku kita.
Setelah sekian lama, simpul ini menjadi sangat sulit bagi kita untuk mentransformasikannya, sulit melepaskan simpulnya, dan mengusir kesesakan dari formasi yang sudah terkristalisasi. Formasi internal dalam bahasa Sanskerta adalah samyojana yang berarti “kristalisasi”. Setiap orang punya formasi internal yang perlu kita tangani dengan hati-hati. Dengan latihan meditasi, kita bisa melepaskan simpul dan merasakan transformasi dan penyembuhan.
Tidak semua formasi internal bersifat mengusik, ada formasi internal yang menyenangkan juga, walaupun demikian tetap saja bisa menyebabkan kita menderita. Ketika kita mengecap, mendengar, melihat sesuatu yang menyenangkan, kemudian kenikmatan itu menjadi simpul internal yang kuat. Ketika objek kenikmatan hilang, engkau begitu merindukannya dan mulai mencari-carinya lagi. Engkau menghabiskan banyak waktu dan energi untuk mencoba merasakan kenikmatan itu lagi. Ketika engkau menghisap marijuana atau meneguk minuman beralkohol dan mulai ketagihan, maka itu menjadi formasi internal badan dan pikiranmu. Engkau tidak bisa melepaskannya dari pikiranmu. Engkau selalu mencari semakin banyak dan semakin banyak. Kekuatan dari simpul internal itu mendorongmu dan mengendalikan dirimu. Jadi, formasi internal mencabut kebebasan kita.
Jatuh cinta adalah sebuah formasi internal besar. Ketika engkau betul-betul jatuh cinta, engkau hanya berpikir orang tersebut. Engkau tidak lagi bebas. Engkau tidak bisa melakukan apa pun, engkau tidak bisa belajar, tidak bisa bekerja, tidak bisa menikmati sinar mentari atau indahnya alam sekitarmu. Alam pikiranmu terpenuhi oleh objek cintamu. Oleh karena itu, jatuh cinta dianggap sebagai sebagai sebuah ‘kecelakaan’. Engkau jatuh terjerambab. Engkau tidak lagi stabil karena engkau tertimpa kecelakaan. Jadi cinta juga bisa menjadi sebuah simpul internal.
Kenikmatan atau sebaliknya, dua jenis simpul ini menggotong pergi kemerdekaan kita. Oleh sebab itulah kita perlu menjaga badan dan pikiran kita secara hati-hati, mencegah simpul-simpul itu bersarang dalam diri kita. Narkoba, alkohol, dan tembakau bisa menciptakan formasi internal dalam badanmu. Kemarahan, keserakahan, kecemburuan, keputus-asaan bisa menciptakan formasi internal dalam pikiranmu.
Berlatih Dalam Agresi
Kemarahan merupakan formasi internal, dan ketika kemarahan membuat kita menderita, kita mencoba sekuat tenaga untuk menyingkirkannya. Psikolog suka menggunakan ungkapan ini, “Usir kemarahan dari sistemmu”, yang mereka maksud adalah melubangi kemarahan, seperti membuat lubang ventilasi di kamar yang penuh dengan asap. Ada psikolog yang mengatakan bahwa ketika energi kemarahan muncul dalam dirimu, engkau perlu membuat lubang ventilasi dengan cara menonjok bantal, menendang sesuatu atau pergi ke hutan untuk pekik dan teriak.
Sebagai seorang anak kecil, engkau tidak sepantasnya menguncarkan umpatan sumpah serapah, orang tuamu melarang, ucapan itu merusak hubungan. Jadi engkau pergi ke hutan atau tempat sepi untuk meneriakkan kata-kata umpatan itu dengan lantang, begitu kuat, demi mebebaskan perasaan tertekan, ini juga tindakan melubangi.
Mereka yang menggunakan teknik melubangi seperti menonjok bantal atau berteriak; sebetulnya mereka sedang melatih kemarahan. Ketika seseorang sedang marah dan melubangi kemarahannya dengan menonjok bantal, mereka sedang menanamkan kebiasaan berbahaya. Mereka sedang melatih agresi. Daripada melakukan hal demikian, pendekatan kami adalah dengan membangkitkan energi perhatian kesadaran dan memeluk kemarahan setiap kali ia muncul.
Memperlakukan Kemarahan dengan Lembut
Perhatian penuh kesadaran (Skt. Smrti) bukan berkelahi dengan kemarahan atau keputus-asaan. Perhatian penuh kesadaran dimunculkan untuk mengenali. Berupaya untuk penuh perhatian terhadap sesuatu ialah upaya untuk mengenali ada sesuatu hadir di sana pada momen sekarang. Perhatian penuh kesadaran merupakan kapasitas untuk eling terhadap apa yang sedang terjadi pada momen sekarang ini. “Bernapas masuk, aku tahu kemarahan telah bermanifestasi dalam diriku; bernapas keluar, aku senyum kepadanya.” Ini bukan tindakan penindasan atau perkelahian. Ini merupakan tindakan untuk mengenalinya. Segera sesudah kita mengenali kemarahan itu, kita memeluknya dengan mengetahui keberadaanya dan penuh kelembutan.
Ketika kamarmu dingin, engkau menyalakan alat penghangat, dan alat itu akan mulai mengirimkan hawa hangat. Hawa dingin tidak perlu keluar dari kamarmu demi membuat kamarmu hangat. Hawa dingin dipeluk oleh hawa panas dan kemudian menjadi hangat, tidak ada perkelahian sama sekali antara dua hal itu.
Kita berlatih menjaga kemarahan kita dengan cara yang sama. Perhatian penuh kesadaran mengenali kemarahan, eling atas kehadirannya, menerima dan membiarkannya hadir di situ. Perhatian penuh kesadaran seperti seorang kakak sulung yang tidak menindas adik bungsunya yang sedang menderita. Kakak sulung hanya berkata “Adikku sayang, Aku hadir di sini untukmu.” Engkau merangkul adikmu dan menghiburnya. Inilah tepatnya latihan kita.
Bayangkan seorang ibu yang berang terhadap bayinya dan memukulnya sampai menangis. Sang ibu ini tidak mengetahui bahwa dirinya dan bayi itu sesungguhnya satu kesatuan. Kita adalah ibu kemarahan dan perlu menolong bayi kita yaitu kemarahan, bukan dengan cara berkelahi atau menghancurkannya. Kemarahan adalah kita sendiri dan belas kasih juga diri kita sendiri. Berlatih meditasi bukan berarti berkelahi, dalam ajaran Buddha, berlatih meditasi seharusnya berlatih memeluk dan transformasi, bukan berkelahi.
Memanfaatkan Kemarahan, Memanfaatkan Penderitaan
Menumbuhkan pohon pencerahan, kita mesti memanfaatkan kesulitan dan penderitaan kita baik-baik. Demikian juga ketika ingin menanam bunga teratai, kita tidak bisa menanamnya di atas keramik, kita tidak bisa menanam bunga teratai tanpa lumpur.
Para praktisi meditasi tidak mendiskriminasi atau menolak formasi internal mereka. Kita tidak merubah diri kita sendiri menjadi medan perang, sang baik berkelahi dengan sang jahat. Kita memperlakukan kesulitan, kemarahan, kecemburuan kita dengan penuh kelembutan. Ketika kemarahan muncul, kita perlu berlatih bernapas penuh kesadaran pada saat itu juga: “Bernapas masuk, aku tahu kemarahan adalah diriku. Bernapas keluar, aku menjaga kemarahanku baik-baik.” Kita bertindak tepat seperti seorang ibu: “Bernapas masuk, aku tahu anakku sedang menangis. Bernapas keluar, aku menjaga anakku baik-baik.” Inilah berlatih belas kasih.
Jika engkau tidak memperlakukan dirimu dengan belas kasih, bagaimana mungkin engkau memperlakukan orang lain dengan penuh belas kasih? Ketika kemarahan muncul, teruslah berlatih napas dan jalan penuh kesadaran untuk membangkitkan energi perhatian penuh kesadaran. Terus memeluk kemarahanmu dengan energi penuh kelembutan. Kemarahan mungkin masih ada dalam dirimu selama sekian waktu, namun engkau aman, karena Buddha hadir dalam dirimu, membantumu menjaga kemarahanmu. Energi perhatian penuh kesadaran merupakan energi Buddha. Ketika engkau berlatih bernapas penuh kesadaran dan memeluk kemarahanmu, engkau berada dalam proteksi Buddha. Hal demikian tidak diragukan lagi, Buddha sedang memeluk dirimu dan kemarahanmu dengan penuh belas kasih.
Memberi dan Menerima Energi Perhatian Penuh Kesadaran
Ketika engkau marah, ketika engkau merasa putus asa, engkau wajib berlatih bernapas dan jalan penuh kesadaran untuk membangkitkan energi perhatian penuh kesadaran. Energi ini mengizinkanmu mengenali dan memeluk perasaan perihmu. Jika perhatian penuh kesadaranmu tidak cukup kuat, engkau meminta bantuan kakak saudaramu untuk duduk disampingmu dan berlatih bersama, bernapas bersama, berjalan bersama untuk mendukungmu dengan energi perhatian penuh kesadarannya.
Berlatih perhatian penuh kesadaran tidak berarti engkau harus melakukan segala sesuatu sendirian. Engkau boleh saja berlatih dengan mendapat dukungan teman-temanmu. Mereka sanggup membangkitkan energi perhatian penuh kesadaran secukupnya untuk membantu engkau untuk menjaga luapan emosimu.
Kita juga bisa mendukung orang lain dengan energi perhatian penuh kesadaran kita ketika mereka berada dalam kesulitan. Ketika anak kita tenggelam dalam luapan emosi, kita bisa merangkul tangannya dan bilang, “Sayangku, bernapaslah, bernapas bersama mama, bersama papa.” Kita boleh mengundang anak kita untuk meditasi jalan bersama, genggam tangganya dengan penuh kelembutan dan membantunya tenang dengan setiap langkah. Ketika engkau memberikan energi perhatian penuh kesadaran kepada anakmu, dia akan merasa tenang dengan cepat dan memeluk emosinya.
Mengenali, Memeluk, Melepaskan Penderitaan Kemarahan
Fungsi pertama dari perhatian penuh kesadaran adalah mengenali, bukan berkelahi. “Bernapas masuk, aku tahu kemarahan bermanifestasi dalam diriku. Halo sang kemarahan cilik.” dan bernapas masuk, “Aku akan menjaga dirimu.”
Segera setelah kita mengenali kemarahan, kita memeluknya. Ini fungsi kedua perhatian penuh kesadaran dan ini latihan yang sangat menyenangkan. Daripada berkelahi, kita menjaga emosi kita dengan baik. Jika engkau tahu bagaimana memeluk kemarahamu, ada sesuatu akan berubah.
Hal demikian seperti merebus kentang, engkau tutup kualinya dan air di dalamnya akan mulai mendidih. Engkau harus membiarkan apinya membara, setidaknya 20 menit untuk merebus kentang. Kemarahanmu adalah sejenis kentang dan engkau tidak bisa makan kentang mentah.
Perhatian penuh kesadaran seperti api yang merebus kentang kemarahan. Beberapa menit untuk mengenali dan memeluk kemarahanmu dengan penuh kelembutan membawa hasil. Engkau akan lega. Kemarahan masih ada di situ, namun engkau tidak terlalu menderita lagi, karena engkau sedang menjaga bayimu. Jadi inilah fungsi ketiga dari perhatian penuh kesadaran, menyejukkan, meringankan. Kemarahan masih di situ, namun sedang dalam perawatan. Situasi tidak lagi kacau balau, tidak seperti bayi menangis yang dibiarkan sendirian. Sang ibu ada di situ menjaganya dan situasi berada dalam kendali.
Menjaga Perhatian Penuh Kesadaran Tetap Hidup
Siapakah sang ibu? Sang ibu adalah Buddha hidup. Kapasituas untuk eling, kapasitas untuk mengerti, mencintai, dan menjaga, itulah Buddha yang ada dalam diri kita. Setiap kali kita berhasil membangkitkan perhatian penuh kesadaran, Buddha dalam diri kita menjadi nyata. Bersama Buddha dalam dirimu, engkau tidak perlu khuatir lagi. Segala sesuatu akan baik-baik saja jika engkau tahu bagaimana menjaga Buddha dalam dirimu tetap hidup.
Penting sekali untuk selalu menyadari bahwa ada Buddha dalam diri kita. Bahkan ketika kita marah, bertindak kasar, dan putus asa, Buddha selalu bersama dalam diri kita. Hal ini berarti bahwa kita selalu punya potensi untuk menjadi sadar, mengerti, dan mencintai.
Kita perlu berlatih bernapas dan jalan dengan penuh perhatian untuk menyentuh Buddha yang ada dalam diri kita. Ketika engkau menyentuh benih perhatian penuh kesadaran yang ada dalam batinmu, Buddha memanifestasikan dirinya dalam batinmu dan memeluk kemarahanmu. Engkau tidak perlu khuatir, teruskan berlatih bernapas atau berjalan agar Buddha tetap hidup. Buddha merasa lega, Buddha melihat secara mendalam terhadap sifat alami kemarahan. Buddha mengerti, dan pengertian itu mendatangkan transformasi.
Energi perhatian penuh kesadaran mengandung energi konsentrasi, demikian juga ada energi pengertian mendalam. Konsentrasi membantumu fokus pada satu hal, dengan konsentrasi, energi melihat menjadi semakin besar.
Karena hal demikian membawa penembusan yaitu pengertian mendalam. Pengertian mendalam selalu memiliki kekuatan untuk membebaskanmu. Jika perhatian penuh kesadaran hadir di sana, engkau tahu bahwa perhatian penuh kesadaran hidup, konsentrasi akan hadir juga. Jika engkau tahu bagaimana mempertahankan konsentrasi tetap hidup, pengertian mendalam juga akan hadir. Jadi, perhatian penuh kesadaran mampu mengenali, memeluk, dan membebaskan. Perhatian penuh kesadaran membantu kita untuk melihat secara mendalam agar mendapatkan pengertian mendalam. Pengertian mendalam merupakan faktor yang membebaskan kita. Hal inilah yang membebaskan dan mengizinkan transformasi terjadi. Inilah praktik buddhis dalam menjaga kemarahan.
Setiap kali engkau memandikan formasi internal dengan air perhatian penuh kesadaran, balok keperihan dalam dirimu menjadi ringan dan tidak begitu berbahaya. Jadi, mandikan kemarahan, keputusasaan, dan dukacitamu dengan air perhatian penuh kesadaran setiap hari, inilah praktikmu. Jika perhatian penuh kesadaran tidak hadir, tentu saja tidak begitu nyaman apabila benih negatif muncul. Tetapi apabila engkau tahu bagaimana membangkitkan energi perhatian penuh kesadaran, tentu saja sangat menyembuhkan apabila kita bisa mengundang energi itu hadir setiap hari dan memeluk energi negatif. Engkau mengundang energi perhatian penuh kesadaran setiap hari, engkau mengundangnya kembali lagi, engkau menciptakan sirkulasi psikis, dan gejala penyakit mental akan mulai hilang.
Perhatian penuh kesadaran memberi pijatan kepada formasi internalmu begitu juga pijatan kepada balok penderitaanmu. Engkau harus mengizinkan sirkulasi terjadi dan hal demikian bisa terjadi ketika engkau tidak takut. Jika engkau belajar untuk tidak takut terhadap simpul penderitaan, engkau belajar bagaimana memeluknya dengan energi perhatian penuh kesadaran dan mentransformasikannya.
Reprinted from Anger, by Thich Nhat Hanh, with permission of Riverhead Books, a member of Penguin Putnam Inc. Copyright © 2001 by Thich Nhat Hanh.
Loosening the Knots of Anger, Thich Nhat Hanh, Shambhala Sun, November 2001.









