Sang Penyumbat: Gangguan Mental Agustus 26, 2008
Posted by nyanabhadra in Indonesia, Thich Nhat Hanh, meditasi, refleksi.Tags: ego, meditasi, nirvana, organisasi, politik, Thich Nhat Hanh, transformasi
trackback
oleh Bhante Thich Nhat Hanh
Buddhis mengutamakan latihan batin konsentrasi terpusat. Menyadari sepenuhnya bahwa tanpa konsentrasi, tanpa membuang gangguan mental, maka meditasi sulit memberikan hasil. Konsentrasi membawa ketenangan, kedamaian, kestabilan, menghadirkan suasana melegakan. Jika para petani menggunakan alat-alat pertanian untuk merawat ladangnya, para praktisi menggunakan meditasi untuk merawat kesadarannya. Buah dan bunga hasil latihan tumbuh dari lahan sang batin.
Penganut Buddhis tahu bahwa Nirvana berada di hati masing-masing orang. Sutra menyebutkan bahwa benih Buddha sudah ada di dalam kesadaran setiap orang, berlatih meditasi merupakan cara untuk membantu kita menyentuh benih-benih mulia dalam diri kita, benih ini meciptakan koneksi antara diri ini dan dasar keberadaan kita. Menurut pandangan Buddhis bahwa Nirvana merupakan dimensi realitas tertinggi, yang merupakan dasar segala dasar. Menurut ajaran Buddha bahwa batin kita yang sesungguhnya selalu cerah. Gangguan mental seperti keserakahan, kemarahan, keragu-raguan, ketakutan, sifat mudah melupakan merupakan faktor yang menutupi cahaya cerah itu, jadi latihan meditasi bertujuan untuk menggusur lima gangguan mental itu. Ketika energi perhatian penuh kesadaran hadir, transformasi pun mulai terjadi. Semuanya saling mempengaruhi, tidak bisa berdiri sendiri, tanpa sang aku.
Saya khuatir banyak penganut Buddhis tidak berlatih, walaupun mereka berlatih, itupun ketika mereka sedang menghadapi masalah, setelah masalah itu selesai, mereka pun melupakan latihannya, atau walaupun mereka berlatih, namun latihan itu hanya latihan untuk pamer saja. Mereka sebagai penyokong komunitas buddhis, wihara, mereka mengadakan berbagai perayaan dan seremoni, menggaet orang untuk menjadi Buddhis, melakukan aktivitas amal, mengadakan kegiatan sosial, namun mereka tidak berlatih perhatian penuh kesadaran ketika mereka melakukan semua aktivitas itu. Mereka mungkin saja menghabiskan 1 jam setiap hari untuk melafalkan sutra, namun tidak lama kemudian pelafalan itu menjadi ‘kering’ dan mereka tidak tahu bagaimana menyegarkan kembali suasana ‘kering’ itu. Mereka percaya bahwa semua aktivitas mereka merupakan kegiatan melayani Buddha, Dharma, dan Sangha, melayani wihara, namun kegiatan mereka sama sekali tidak menyentuh Buddha yang ada di dalam hati mereka. Kemudian kelompok orang ini juga tidak segan-segan untuk mendekati sumber kekuasaan politik, bersatu dengan mereka untuk membentuk aliansi besar demi memperkokoh posisi wihara maupun status organisasinya. Mereka percaya bahwa kekuatan politik diperlukan demi kebaikan dan masa depan wihara maupun komunitasnya. Mereka sedang membangun “AKU” padahal sang “AKU” lah yang seharusnya dicampakkan. Dengan demikian, mereka memandang sang “AKU” adalah kebenaran mutlak dan menyebut jalur spiritual lain sebagai jalur sesat! Sikap demikian sungguh berbahaya, sikap demikian selalu bermuara menuju konflik dan perang, akarnya adalah tanpa-toleransi.
disadur dari: Living Buddha Living Christ









