Makan Untuk Kedamaian Agustus 9, 2008
Posted by nyanabhadra in Indonesia, Thich Nhat Hanh, refleksi.Tags: buddha, kelaparan, kesadaran, konsumsi, perhatian, Thich Nhat Hanh
trackback
Makan untuk menciptakan kedamaian –
Seni dan Ilmu konsumsi dengan penuh kesadaran
oleh Bhante Thich Nhat Han
Segala sesuatu membutuhkan makanan untuk bisa tetap bertahan hidup dan tumbuh berkembang, tentu saja termasuk cinta kasih maupun kebencian yang ada dalam diri kita. Cinta kasih merupakan sesuatu yang hidup, demikian pula dengan kebencian. Apabila engkau tidak memberikan gizi kepada cinta kasihmu, cinta kasih itu akan mati. Apabila engkau memotong sumber nutrisi kepada kekerasan, maka kekerasan dalam dirimu juga akan mati. Oleh sebab itu, jalur tuntutan yang diberikan oleh Buddha merupakan jalur menuju konsumsi dengan penuh kesadaran.
Buddha mengisahkan sebuah cerita, ada sepasang suami istri yang ingin menyeberangi belantara gurun pasir menuju negeri di seberang sana untuk mendapatkan pembebasan. Mereka membawa serta anak kandungnya dan sejumlah bekal seperti makanan dan air minum. Namun, mereka tidak mengkalkulasi dengan tepat, oleh karena itu dipertengahan jalan ketika mereka tiba di tengah-tengah gurun pasir, makanan mereka sudah habis, mereka sadar bahwa kematian sudah dekat. Setelah melalui berbagai gejolak kesedihan mendalam, mereka memutuskan untuk memakan daging anak kandungnya sendiri sedikit demi sedikit untuk tetap mempertahankan hidupnya agar bisa tiba di negeri seberang, itulah yang mereka lakukan. Setiap kali mereka memakan potongan daging anak kandungnya, mereka menangis.
Buddha kemudian bertanya kepada para biksu, “Sahabatku: Menurutmu, apakah suami istri itu bisa menikmati memakan daging anak kandungnya sendiri?” Buddha kemudian melanjutkan, “Sungguh tidak mungkin mereka bisa menikmati memakan daging anak kandungnya sendiri. Apabila engkau tidak makan dengan penuh perhatian, engkau seperti memakan daging anak kandungmu sendiri, dan engkau memakan daging orang tuamu.”
Seandainya kita melihat secara mendalam, kita menyadari bahwa menyantap makanan juga bia menjadi aktivitas yang sangat mengerikan. UNESCO memberitakan bahwa setiap hari terdapat sekitar 40.000 anak di dunia ini mati karena kurang makanan dan kurang nutrisi.
Setiap hari sekitar 40.000 anak, jumlah ini sama dengan jumlah biji-bijian yang ditanam di negara barat dan umumnya biji-bijian itu merupakan makanan untuk ternak. Berdasarkan laporan yang barusan kami terima, sebanyak 87% pertanian di Amerika digunakan untuk makanan ternak, total itu memakai sekitar 45% lahan tanah di Amerika.
Seluruh air yang dikomsumsi oleh Amerika, lebih dari separuh konsumsi itu diperuntukkan kepada binatang. Konsumsi itu membutuhkan 2.500 galon air untuk menghasilkan 1 pon daging potong, namun hanya membutuhkan 25 galon air untuk menghasilkan gandum. Seorang yang hidup dengan cara bervegetarian membutuhkan 300 galon air setiap hari, kemudian seseorang yang memakan daging membutuhkan 4.000 galon air setiap hari.
Berternak untuk menghasilkan daging telah menciptakan polusi air, keadaan ini lebih parah daripada industri lain yang ada di Amerika, hal ini terjadi karena berternak dengan cara seperti itu menghasilkan buangan kotoran 130 kali lebih banyak daripada buangan kotoran manusia dari seluruh populasi yang ada. Dengan demikian, terjadi pembuangan kotoran sebanyak 87.000 pon setiap detik. Sebagian besar buangan kotoran dari peternakan dan rumah potong itu mengalir ke sungai, dan mencemari sumber-sumber air.
Setiap orang yang hidup bervegetarian bisa menyelamatkan 1 akre (4000 meter persegi) pohon setiap tahun. Lebih dari 260 juta akre hutan di Amerika telah dibabat untuk bercocok tanam bahan makanan yang dibutuhkan untuk peternakan daging potong. Kemudian, setiap akre hutan hilang dalam hitungan 8 detik. Banyak hutan tropik yang dibabat untuk dijadikan sebagai tempat makan rumput para ternaknya.
Di Amerika Serikat, makanan yang dibutuhkan oleh ternak lebih dari 80% jagung yang ditanam, dan lebih dari 95% gandum. Kita sedang memakan negara kita sendiri, kita memakan bumi kita, kita memakan daging anak-anak kita. Saya menerima informasi bahwa lebih dari separuh populasi di Amerika berlebihan makan.
Makan dengan penuh perhatian membantu kita mempertahankan welas asih dalam hati kita. Tanpa welas asih, seseorang tidak bisa bahagia, tidak bisa menciptakan hubungan dengan manusia lain dan begitu juga tidak bisa menciptakan hubungan dengan makhluk lain. Kita sedang memakan daging anak kandung kita sendiri, inilah yang sedang terjadi di dunia kita, kejadian ini terjadi karena kita tidak berlatih makan dengan penuh kesadaran.
Buddha menjelaskan bahwa ada dua jenis makanan yang kita konsumsi setiap hari, makanan berupa jejak kesan-kesan yang kita serap melalui mata, telinga, lidah, badan jasmani, dan batin. Ketika kita membaca majalah, kita sedang konsumsi. Ketika engkau menonton televisi, engkau sedang mengonsumsi. Ketika engkau sedang mendengarkan sebuah percakapan, engkau juga sedang mengonsumsi. Semua jenis makanan itu bisa saja mengandung racun yang sangat mematikan. Banyak sekali racun, seperti nafsu keinginan, kekerasan, kemarahan, kehilangan harapan. Kita membiarkan racun masuk ke badan kita melalui makanan itu, kita juga membiarkan anak-anak kita mengonsumsi racun karena produk-produk itu.
Oleh karena itu, penting sekali bagi kita untuk melihat secara mendalam pada hubungan saling bergantungan yang berkiaitan dengan diri kita, melihat secara mendalam sifat dasar hubungan saling bergantungan, demi mengetahui yang mana merupakan sumber nutrisi yang perlu kita bawa ke dalam diri kita sendiri dan ke dalam masyarakat.
Buddha menyatakan demikian: “Apa pun yang telah muncul, apabila engkau tahu bagaimana melihat secara mendalam sifat dasar dan identitas sesungguhnya dari sumber-sumber nutrisi itu, engkau sudah siap menuju jalur emansipasi”.
Hal apa yang menjadi penyebab penyakit, keadaan tidak puas, penderitaan, kekerasan, dan hilangnya harapan kita. Apabila engkau berlatih melihat secara mendalam, meditasi, engkau akan bisa menentukan secara jelas identitas sesungguhnya dari sumber nutrisi itu, sumber makanan yang datang kepada kita.
Oleh karena itu, sebuah negara perlu berlatih melihat secara mendalam ke dalam sifat dasar dari makanan yang kita konsumsi setiap hari, dan konsumsilah dengan penuh kesadaran merupakan satu-satunya cara untuk melindungi negara, diri sendiri, dan masyarakat kita. Kita perlu belajar bagaimana untuk mengonsumsi dengan penuh kesadaran sebagai keluarga, sebagai kota, sebagai negara. Kita perlu belajar menentukan hal apa yang tidak boleh kita produksikan, hal apa yang perlu kita produksi demi menyediakan barang-barang yang hanya mendatangkan nutrisi dan penyembuhan bagi masyarakat. Kita perlu menghindarkan diri untuk memproduksi hal-hal yang membawa sifat perang, kekecewaan ke dalam badan jasmani, kesadaran, dan kepada setiap orang dan kesadaran kelompok, negara, dan masyarakat.
Para anggota parlemen juga perlu berlatih dengan cara demikian. Kita memilih para anggota parlemen, kita berharap mereka juga berlatih secara mendalam, mendengar penderitaan masyarakat, mendengarkan sumber sesungguhnya dari penderitaan, dan menetapkan peraturan yang melindungi kita semua dari kehancuran diri. Amerika merupakan sebuah negara yang sangat besar, saya yakin bahwa Amerika mampu melakukan hal demikian, Amerika mampu membantu dunia ini. Amerika juga bisa memberikan kebijaksanaanya, perhatian penuh kesadaran dan welas asihnya.
Zaman ini, saya sangat menikmati tempat-tempat tanpa asap rokok. Tersedia pesawat terbang bebas asap rokok yang bisa kita tumpangi sekarang ini. Sepuluh tahun lalu tidak ada pesawat bebas asap rokok, dan kotak rokok yang beredar di Amerika tertulis pesan: “Berhati-hatilah: merokok dapat mendatangkan malapetaka dan merusak kesehatanmu”. Pesan itu seperti lonceng kesadaran. Inilah yang disebut sebagai latihan untuk mengonsumsi dengan penuh perhatian. Engkau tidak “menproklamasikan” bahwa kamu sedang berlatih perhatian penuh kesadaran, namun engkau berlatih secara langsung. Kesadaran penuh perhatian atas rokok mengizinkan kita untuk melihat secara mendalam bahwa merokok itu merusak kesehatan.
Di Amerika, banyak orang yang semakin sadar dengan makanan yang mereka santap. Mereka ingin bungkusan makanan yang memiliki label jelas sehinga mereka tahu isi makanan itu. Mereka tidak ingin menyantap makanan yang membawa racun ke dalam badan jasmani mereka. Inilah yang disebut sebagai latihan memakan dengan penuh perhatian.
Namun kita bisa maju lebih jauh, kita bisa melakukannya lebih baik lagi sebagai orang tua, sebagai guru, sebagai artis, dan politikus.
Apabila profesimu adalah seorang guru, engkau bisa ikut berkontribusi untuk menyadarkan banyak orang agar memakan dengan penuh perhatian, karena inilah cara untuk ikut serta dalam emansipasi. Apabila engkau seorang jurnalis, engkau punya kesempatan untuk ikut mengedukasi banyak orang, menyadarkan banyak orang sehingga mereka menyadari sifat sesungguhnya dari situasi yang muncul pada saat itu. Setiap orang memiliki kemampuan untuk bertransformasi diri menjadi bodhisatwa kemudian bekerja demi menyadarkan semua orang.
Karena kesadaranlah yang bisa membantu kita supaya berhenti melakukan tindakan yang menghancurkan. Kemudian, dengan demikian kita tahu harus berjalan ke arah yang mana demi menjadikan dunia ini aman bagi diri sendiri, bagi anak-anak, dan juga bagi cucu kita nanti.
sumber:
http://mysangha.blogspot.com/2008/08/eating-for-peace.html









